Puluhan Ribu Masyarakat Lobar Alami Krisis Air Bersih

Kapolda bersama Bupati saat membagikan air kepada Masyarakat terdampak krisis air bersih di Desa Pelangan Sekotong

Advertisement

Giri Menang (Suara NTB) – Puluhan ribu masyarakat Lombok Barat (Lobar) mengalami krisis air dampak dilanda musim kemarau berkepanjangan tahun ini. Menurut Kepala Pelaksana BPBD Lobar, H. M. Najib, kondisi saat ini masih terjadi kekeringan bahkan meluas ke delapan kecamatan di 29 desa dan 81 dusun.

Karena itu, kata dia, status bencana kekeringan pun dinaikkan dari status siaga darurat kekeringan ke tanggap darurat bencana kekeringan. “Pak Bupati sudah mengeluarkan SK penetapan status tanggap darurat bencana kekeringan sekitar awal bulan ini. Atas dasar itu kami mengusulkan bantuan ke provinsi dan kita dapat bantuan dana Rp 128 juta untuk droping air,” terang Najib, akhir pekan kemarin.

Untuk bantuan provinsi, kata dia, kemungkinan besar bisa bertambah tergantung kondisi kekeringan ke depan.Selain dari provinsi, pihaknya juga mendapatkan bantuan CSR dari BRI. Dari pemda kata dia, sudah mulai mencairkan dana bantuan tak terduga (BTT) yang jumlahnya senilai Rp1 miliar. Bantuan dana ini sudah diberikan kepada Dinas Damkar selaku pihak yang ikut membantu mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang sifatnya  emergensi. Pihaknya memberikan bantuan Rp 20 juta.

Sedangkan untuk OPD lain seperti Dinas Sosial yang mengaku kehabisan anggaran untuk distribusi air bersih. Ia meminta agar dinas terkait membuat usulan kepada Bupati menembuskan ke BPBD dengan syarat Dinas Sosial membuat rencana penggunaan dananya. Ia berharap kepada OPD lain, seperti Dinsos agar menyalurkan air tidak ada yang tumpang tindih. Sebab bantuan yang diperoleh Lobar dari BPBD Provinsi dan CSR BRI.

Sementara itu Kasi Logistik pada BPBD Lobar H. Tohri mengatakan sejuah ini, jumlah wilayah yang terdampak makin meluas hingga delapan kecamatan, desa yang terdampak 29 desa, dusun 81 dusun. Jumlah KK yang terdampak kata dia mencapai 40.427 dengan jumlah jiwa mencapai 161.708.  “Jumlah Desa yang terkena kekeringan 29 desa dengan jumlah KK yang mengalami krisis air 40.427 KK dengan 161.708 jiwa,” jelas dia.

227 Ribu Terdampak Kekeringan

Sebanyak 227 ribu jiwa penduduk di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) hampir setiap tahun selalu terkena dampak kekeringan. Sayangnya, upaya penanganan yang dilakukan oleh pemerintah daerah selama ini hanya terkena sesaat. Belum terlihat ada upaya penanganan jangka panjang untuk bisa memutus rantai permasalah dampak kekeriangan didaerah ini.

Demikian diungkapkan Wakil Ketua DPRD Loteng, H.L. Sarjana, kepada Suara NTB, Minggu,  20 Oktober 2019. Menurutnya, sebagai persoalan yang hampir setiap tahun terjadi, pemerintah daerah semetinya sudah punya gambaran formulasi solusi untuk mengatasi dampak kekeriangan. Tidak hanya kemudian melakukan upaya-upaya antisipasi jangka pendek semata.

“Upaya penangan kekeringan harus juga jangka panjang. Jangan hanya upaya antisipasi yang bersifat janga pendek saja, misalnya hanya dengan melakukan droping air bersih ke kantong-kantong kekeringan di daerah ini,” jelasnya.

Sarjana mengatakan, droping air bersih penting. Dan, memang itu upaya jangka pendek yang paling mungkin dilakukan. Tetapi kalau ada upaya jangka panjang yang dilakukan, maka ke depan droping air seperti sekarang ini tidak perlu lagi dilakukan.

Misalnya dengan memperbanyak embung-embung rakyat. Karena keberadaan embung rakyat bisa menjadi penampung air disaat musim kemarau. Walaupun airnya mungkin tidak bisa digunakan ole warga untuk keperluan sehari-hari. Tetapi genangan air di embung atau waduk rakyat itu memungkinkan sumur-sumur warga yang ada di sekitarnya tetap berair.

Solusi kedua yakni dengan memperbanyak sumur bor dalam. Karena dari pengalaman pembangunan sumur bor di sejumlah titik, ternyata sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersih. “Misalnya di satu desa punya tiga sampai empat titik sumur bor, itu akan sangat bermanfaat dan membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersihnya,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Loteng, Drs. H. Muhammad, mengaku total ada delapan kecamatan di Loteng terkena dampak kekeringan. Dengan jumlah desa sebanyak 83 desa. Hanya empat kecamatan yang bisa dikatakan relatif aman dari dampak kekeringan. Jika dikalkulasikan di delapan kecamatan tersebut total lebih dari 227 ribu jiwa yang terkena dampak kekeringan.

Selain dengan membantu droping air bersih, pihaknya juga melakukan upaya-upaya penanganan jangka panjang. Seperti tahun ini ada pembangunan sumur bor dalam di dua kecamatan, yakni Kecamatan Praya Timur serta Praya Barat Daya. Sumur bor tersebut merupakan bantuan dari pemerintah provinsi.

“Sumur bor ini dipandang bisa menjadi salah satu alternatif jangka panjang dalam menangani dampak kekeringan yang selaku terjadi hampir setiap tahun di daerah ini,”  ujarnya. (her/kir)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.