OPD Lobar Dinilai Gagal Tangani Toilet di Kawasan Wisata Senggigi

Kondisi toilet di kawasan wisata Senggigi sangat jorok. Perlu perhatian serius dari Pemda Lobar menangani masalah toilet ini. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Buruknya kondisi fasilitas umum seperti toilet di kawasan wisata Senggigi menjadi sorotan kalangan dewan. Dewan menilai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Lobar gagal menangani masalah toilet di kawasan tersebut. Hal ini disebabkan ketidakseriusan pemda membenahi fasilitas publik ini.

Sekretaris Komisi II DPRD Lobar Munawir Haris mengatakan, kondisi toilet di kawasan Senggigi sangat buruk, sehingga seolah tak mencerminkan daerah wisata. Menurutnya, penanganan fasilitas penunjang ini tidak serius ditangani. Sebab terkadang OPD membangun, namun tak dibarengi dengan pemeliharaan.

‘’Seharusnya begitu fasilitas ini dibangun, dianggarkan juga untuk pemeliharaannya, sehingga tidak bisa dipergunakan,’’ sarannya, Kamis,  17 Oktober 2019.

Ia menegaskan sebagai penghasil PAD terbesar hampir Rp 51 miliar lebih, seharusnya pemda jangan hanya fokus menggenjot PAD Senggigi, namun pemda kurang memperhatikan kawasan wisata ini. Karena itu, katanya, penting juga Pemda mengalokasikan dana besar terhadap bagaimana penyiapan fasilitas penunjang dan pembangunan infrastruktur parwisata.

Adanya rencana pinjaman Rp 150 miliar agar bisa juga diarahkan Rp 16-20 miliar untuk membangun infrastruktur penunjang lainnya, di samping PJU lewat Dinas Perumahan dan Permukiman. Harapannya, begitu masuk kawasan wisata Senggigi lewat Meninting, terlihat ciri khas daerah wisata ini. “Ini kan tidak ada semacam ciri khas wisata,”  kritiknya.

Begitu pula tempat khusus untuk kuliner, makan dan hiburan.  Pihahya

mendukung mendukung agar anggaran dari pinjaman juga diarahkan untuk kawasan Senggigi. Pinjaman ini akan direncanakan untuk membenahi beberapa titik kawasan wisata pantai Kerandangan sampai Senggigi.

Sejauh ini sudah ada site plan penataan lokasi ini, seperti yang sudah dipresentasikan oleh Dinas PUPR dan Dinas pariwisata. “Pada prinsipnya kita setujulah, apalagi Senggigi penghasil PAD terbesar di Lobar,” jelas dia.

Untuk memaksimalkan penanganan kawasan wisata ini, perlu lintas sektor. Misalnya kaitan dengan sampan ditangani Dinas Kelautan dan Perikanan, sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup dan permasalahan toilet ini ada Dinas PUPR dan juga Dinas Pariwisata. “Semua harus bersinergi dalam membangun kawasan wisata ini,” sarannya.

Sebab ketika Bapenda memungut pajak di lapangan, pengusaha di kawasan ini mengeluh, karena belum maksimalnya penanganan infrastruktur di kawasan tersebut.

Sebelumnya Kepala Dinas Pariwisata Lobar Ispan Junaidi mengakui kondisi fasilitas pendukung di kawasan wisata, seperti toilet masih buruk. “Terkait WC atau toilet ini, di Lobar masih gagal mengelola toilet. Bahkan toilet di masjid pun masih jorok,” aku dia.

Seharusnya toilet di masjid-masjid harus berstandar internasional.  Menurut dia sederhana menilai destinasi, cukup melihat kondisi toilet. Sebab kalau kondisi toilet buruk maka destinasinya pasti jorok. Ia menambahkan, hal ini ke depan bersama OPD terkait lainnya menjadi atensinya untuk pembenahan. (her)