Dampak Kebakaran TPA Kebon Kongok, Warga Terpapar Asap Alami ISPA

Warga yang terpapar asap di Desa Kuranji menderita ISPA. Warga yang ada di sekitar lokasi TPA sangat mengeluhkan kondisi udara akibat TPA yang terbakar. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Kebakaran yang melanda TPA Regional Kebon Kongok Desa Suka Makmur Kecamatan Gerung Lombok Barat (Lobar) sudah berlangsung selama tiga hari. Lahan TPA yang terbakar pun meluas hingga setengah dari luas lahan TPA atau sekitar 2,5 hektar. Tim Pemadam Kebakaran masih kewalahan memadamkan, sehingga pemda meminta bantuan Polda NTB untuk menambah Water Cannon.

Dampak dari asap kebakaran ini pun mulai mengganggu kesehatan warga sekitar. Banyak warga yang terpapar asap mengalami sesak napas dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Untuk mengetahui tingkat pencemaran udara di wilayah terpapar asap, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) NTB menurunkan tim dari Laboratorium Lingkungan.  Tim ini memasang alat pengukuran pencemaran udara di beberapa lokasi yang paling parah terpapar asap tersebar di tiga desa, yakni Desa Perampuan, Kuranji dan Terong Tawah.

Ayumin, salah seorang yang tekena gangguan pernapasan di Dusun Pegeleng Desa Kuranji mengatakan, warga setempat sudah terpapar asap selama tiga hari ini. Semenjak kejadian kebakaran TPA pada hari Minggu lalu.  Asap pekat masuk ke pemukiman warga menyebabkan warga sulit bernapas dan mengganggu jarak pandang warga. “Saya kena sesak napas sejak mulai awal kebakaran hari minggu lalu.  Tapi sudah dikasih obat dan masker,” tuturnya.

Asap mulai masuk ke pemukiman warga, pada jam-jam tertentu akibat terbawa angin.  Mulai pagi hari, sekitar waktu Subuh hingga pukul 10. 00 pagi dan malam hari.  Warga setempat masih bertahan di rumah masing-masing, karena belum ada arahan untuk evaluasi dari pemerintah. Di daerah itu, ada juga anak berusia 3,5 tahun yang terkena ISPA.

Keluhan senada menuturkan anaknya mulai sakit batuk dan pilek sebelum terjadi kebakaran. Namun bertambah parah, akibat banyak menghirup asap dari kebakaran tersebut. “Sudah saya bawa ke puskesmas, kata pihak puskesmas terkena gangguan pernapasan,” kata dia.  Semenjak kebakaran itu, aktivitas warga sekitar terganggu, baik warga yang mau ke sawah dan jualan.

Dampak asap ini juga banyak kera di Gunung Pengsong yang turun ke pemukiman warga.

Mereka masuk ke rumah – rumah warga dan mencuri makanan.

Tim Laboratorium Lingkungan DLH NTB saat memasang alat pengukuran udara untuk mengetahui tingkat pencemaran udara di daerah terdampak asap. (Suara NTB/her)

Kepala UPT BLUD Puskesmas Perampuan, Hj Zulhana, S. KM., turun mendampingi tim Laboratorium Lingkungan DLH NTB untuk memasang alat pengukuran pencemaran udara di sejumlah titik terdampak asap.  Zulhana mengatakan sejak terjadi kebakaran tim sudah turun melakukan penanganan dampak asap dengan melakukan pemeriksaan kesehatan, pemberian obat-obatan dan masker.

Sejauh ini jumlah warga yang tercatat mengalami gangguan pernapasan sebanyak enam orang. Terdiri dari orang tua dan anak-anak. “Ada enam orang terkena gangguan pernapasan  akibat asap kebakaran ini,”  ujarnya.

Sementara itu, Kepala Balai Laboratorium Lingkungan pada DLH NTB, Muhammadin mengatakan pihaknya menurunkan tim untuk memasang alat pengukuran udara di desa-desa yang terpapar dengan asap akibat kebakaran TPA.  Pengukuran udara ini dilakukan untuk melihat beberapa parameter udara yang berpengaruh terhadap kesehatan. Alat ini hanya bisa mengukur kadar NO3, CO, partikel Pm10. “Kita mau ukur sejauh mana tingkat pencemaran udara di daerah terpapar asap, ” ujarnya.

Pengukuran dilakukan selama 1 jam tergantung kebutuhan. Banyak titik yang akan diukur rencananya di tiga lokasi. Kalau nanti ekskalasi makin meluas, barulah akan dipasang alat selama 24 jam untuk mengetahui tingkat pencemaran.

Hasil laboratorium ini, akan dilihat yang nantinya akan disampaikan ke pimpinan untuk langkah penanganan selanjutnya. Menurut dia, adanya warga yang terkena Ispa akibat partikel Pm 10 mengalami kenaikan, bahkan ketika asap tebal di pemukiman warga mencapai 700. Artinya, pencemarannya di atas ambang baku mutu lingkungan.

Sementara itu, Kepala UPT TPA Sampah Regional provinsi NTB, H Didik Mahmud Gunawan Hadi mengatakan sejauh ini kebakaran belum bisa ditangani. Untuk penanganan kebakaran sudah diterjunkan armada secara maksimal. Pihaknya juga sudah melaporkan ke pimpinan untuk meminta bantuan ke Polda.”Kami minta penambahan bantuan water cannon ke Polda NTB,” ujar dia. (her)