TPA Kebon Kongok Memprihatinkan

Petugas Pemadam Kebakaran sedang memadamkan sampah yang terbakar di TPA regional Kebon Kongok, Senin (14/10) sore. TPA ini mengalami overload dengan jumlah sampah yang dibuang mencapai 333 ton per hari dari Kota Mataram dan Lobar. (Sara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah regional provinsi NTB di Kebon Kongok, Desa Suka Makmur Kecamatan Gerung yang mengalami kebakaran begitu memprihatinkan. TPA yang dipakai dua daerah yakni Lombok Barat (Lobar) dan Kota Mataram ini sudah overload. Artinya volume sampah yang dibuang sudah tidak mampu ditampung di TPA ini, sehingga tumpukan sampah pun menggunung.

Sementara kondisi peralatan seperti armada dump truck pengangkutan sampah tidak ada. Alat berat untuk mengeruk sampah hanya satu unit. Itu pun kondisi alatnya batuk-batuk alias sering rusak. Rencana memindahkan TPA ini pun menjadi alternatif.

Kepala UPTD TPA Sampah Regional Provinsi NTB, H. Didik Mahmud Gunawan Hadi mengaku, sebenarnya kondisi TPA overload. “Tapi kalau menurut ahlinya masih bias 3-5 tahun asal dikelola secara baik secara sanitary land,”jelas dia. Program ini sebenarnya mau diterapkan dalam waktu dekat, hanya saja kebakaran keburu terjadi di TPA.

Ia menyebut volume sampah yang dibuang di TPA baik dari Lobar dan Mataram sebanyak 333 ton per hari. Seharusnya sampah yang masuk di TPA ini setelah dipilah dari sumbernya. Sehingga sampah yang masuk sedikit karena sudah sudah diolah dan dipilah di TPST serta rumah tangga di masing-masing daerah. Dari volume sampah ini, pihaknya melakukan pemilahan di

TPA. Sebanyak enam orang bekerja melakukan pemilahan sampah khusus organik. Hasil pilahan ini dibawa ke TPTS di Lingsar untuk diolah.

Sedangkan peralatan yang dimiliki diakui masih angat kurang. Sejauh ini di TPA itu tidak ada dump truck pengangkut sampah. Alat berat berupa eskavator pun hanya satu. Itu pun kerap rusak. Alat berat untuk mengeruk sampah pun tidak ada, sehingga ia teroaksa sewa. ”Sarana prasarana masih sangat kurang,” katanya. Diakui kondisi ini ironis, TPA berstatus regional yang minim dari sisi sarana prasarana.

Karena itu sudah ada wacana merelokasi TPA ini ke wilayah Teluk Gedang, sebab desain dari Dinas PU sendiri TPA ini hanya sampai pada tahun 2020. “Makanya sudah disiapkan uangnya untuk membangun TPA, rencananya di Rincung, tapi masih proses DED,” jelas dia. Diketahui luas lahan TPA ini seluas 8,14 hektar dengan 5 hektar sebagai lokasi timbunan sampah sedangkan 3 hektar lebih untuk lokasi bangunan dan pergudangan.

Ia menambahkan, selain TPA Kebon Kongok, ada juga TPST atau Tempat pengolahan sampah organik di Lingsar. Di tempat pengolahan  ini, sampah yang masuk 1,3 ton per hari. di TPST ini menggunakan ulat sebagai pengurai sampah. Ulat ini nantinya bisa dijadikan pakan ternak, kencingnya menjadi pupuk cair dan cangkangnya bisa menjadi pupuk padat. (her)