Dampak Kekeringan Dikhawatirkan Pengaruhi Target Produksi Pertanian

Petani di Kuripan ini mengalami gagal panen akibat kekeringan. Akibat kekeringan ratusan hektare tanaman pertanian dan palawija gagal panen. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Dampak kekeringan di Lombok Barat (Lobar) menyebabkan ratusan hektar lahan tanaman padi dan palawija gagal panen, sehingga dikhawatirkan berpengaruh terhadap produksi pertanian di Lobar. Apalagi musim kemarau masih terjadi hingga akhir bulan ini. Bahkan diprediksi ada daerah yang rawan dilanda kekeringan lebih panjang akibat dilanda hari tanpa hujan (HTH).

Kepala Dinas Pertanian Lobar Muhur Zokhri mengatakan luas lahan yang terkena puso khusus padi mencapai 10 hektare. Sedangkan yang lain, tanaman palawija yang terkena gagal panen. Untuk tanamaan jagung, paling banyak yang gagal panen ada di Sekotong dan Lembar mencapai 84 hektare. ‘’Gagal panen ini dipicu di samping kekeringan, daerah yang terdampak juga berada di areal tadah hujan, sehingga tanaman yang gagal panen ini sulit sekali diselamatkan,” jelasnya, Selasa, 3 September 2019.

Menurut dia, selebihnya tanaman padi petani tidak terkena gagal panen, karena sudah panen duluan. Dampak gagal panen akibat kekeringan ini, lanjut dia, tentu berdampak terhadap penurunan produksi. Hanya saja ia mengklaim, dampaknya tidak terlalu signifikan, sebab masih ada belasan ribu hektare lahan yang berproduksi secara normal. “Ya ada pengaruhnya terhadap produksi, tapi tidak signifikan jika melihat luas lahan yang terkena dampak kekeringan ini,” tegas dia.

Terkait rencana tanam berikutnya, pihaknya masih menunggu informasi dari BMKG. Namun untuk petani yang posisinya berada di daerah rawan kekeringan, diharapkan supaya memilih jenis tanaman dan varietasnya. Terkait prediksi HTH di wilayah Lobar, menurut dia ada beberapa titik yang dikhawatirkan, sehingga perlu menunggu informasi dari BMKG.  “Ini tunggu tunggu informasi dari BMKG,”jelas dia.

Khusus untuk lahan pertanian yang ada kawasan irigasi, tidak dikhawatirkan terdampak sebab kondisinya masih bagus.   Hasil pantauannya di lokasi rawan kekeringan yang sudah dibangunkan embung, menurut dia, air sudah tersedia di embung-embung tersebut. Artinya, petani masih bisa untuk tanam palawija. “Embung –embung ini terus kita perbanyak di daerah rawan kering ini,” jelas dia. (her)