Mesin Suling Air Laut Mangkrak, Warga Gili Gede Terpaksa Beli Air Galon untuk Konsumsi Sehari-hari

Mesin penyulingan air laut di Desa Gili Gede ini mangkrak sampai saat ini, warga berharap agar bisa dioperasikan karena sudah ada jaringan listrik  (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Pengembangan Gili Gede menjadi kawasan wisata terus dilakukan Pemkab Lombok Barat (Lobar). Sayangnya hingga kini pulau yang berada di Kecamatan Sekotong itu masih belum memiliki sumber air bersih. Hal ini pun menjadi salah satu penghambat investor yang mau berinvestasi di Gili Gede.

Tak hanya menghambat investasi, ribuan jiwa masyarakat di kawasan wisata ini juga belum terlayani air bersih. ‘’Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi air setiap hari, warga setempat terpaksa membeli air galon dengan harga lumayan tinggi mencapai Rp 25-30 ribu per galon.  Sedangkan untuk MCK, warga memanfaatkan air sumur yang kondisinya payau,’’ aku Kepala Desa Gili Gede Musdan pada Suara NTB, Rabu,  21 Agustus 2019.

Selama sekian tahun warga di desanya yang berjumlah 360 Kepala Keluarga (KK) di lima dusun tak terlayani air bersih. Warganya terpaksa membeli air bersih dari pulau seberang untuk bisa memperoleh air untuk keperluan konsumsi. “Warga kami untuk kebutuhan air bersih mereka beli air galon di darat (pulau seberang). Kalau pengunaan air untuk cuci dan mandi masih cukup walaupun payau airnya,”tutur dia. Warga biasanya membeli air galon di pulau seberang dalam jumlah banyak, sebab per galon hanya bisa dipergunakan selama seminggu.

Ia mengaku sebenarnya untuk mengatasi masalah air bersih ini sudah ada dua unit mesin suling air laut menjadi air tawar. Hanya saja sampai saat ini mesin suling air ini tidak bisa dipakai akibat mesinnya rusak. Padahal, kata dia, baru dipergunakan selama tiga bulan setelah pemasangan di 2016 lalu. Pihaknya pun tidak bisa memperbaikinya lantaran tidak mengetahui letak kerusakan mesin itu.  Untuk perbaikan mesin suling ini, pihaknya sudah mengusulkan ke pihak pemda, namun belum ada tindaklanjut sampai saat ini.

Ia menambahkan, langkah pemda untuk menangani persoalan air di daerah setempat, rencananya tahun depan dilakukan penanganan. Rencananya, dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) ingin memasang pipa melalui seberang pulau. Akan tetapi pihaknya belum belum tahu apakah airnya dari PDAM atau air yang di gunung yang dialirkan.

Kebutuhan air bersih di Gili Gede juga disuarakan oleh Anggota DPRD Lobar asal Sekotong, Abu Bakar Abdulah. Menurut Politisi PKS itu, kebutuhan air menjadi pendorong adanya investor yang

mau mengembangkan investasinya di pulau itu. Bahkan jika melihat pengolahan air laut menjadi air tawar oleh investor di Gili Trawangan KLU bisa dijadikan percontohan. “Dia mengunakan sistem desilinasi dari air laut menjadi air tawar, ini bisa menjadi alternatif,” ujarnya.

Di samping itu adanya pembangunan embung di Desa Sekotong Barat juga bisa dijadikan peluang, agar akses air bersih itu bisa menjangkau hingga Gili Gede.  Terlebih lagi ia melihat adanya investor yang sudah mengunakan pipa bawah laut yang terhubung dengan sumur di pulau seberang.“Walaupun skalanya masih kecil. Tetapi kalau kita kelola dengan sumber yang ada ini bisa menjawab permasalahan,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Bupati Lobar H. Fauzan Khalid tidak menampik kebutuhan air bersih menjadi salah satu penghambat investasi di Sekotong. Namun menurutnya kebutuhan air itu bisa dipenuhi secara paralel. Seiring dengan perkembangan investasi di kawasan itu. Mengingat kebutuhan listrik pulau itu sudah terpenuhi. Sebab ia mengatakan Pemkab melalui PDAM tidak berani memasang jika tidak ada investor yang membangun di lokasi itu. Hal itu justru dinilai akan merugikan.“Saya yakin setelah penataan (Gili Gede) selesai, ada investor PDAM juga akan masuk. Dia akan paralel, ini pancingan sebenarnya,” ujarnya.

Meski demikian orang nomor satu di Lobar itu menjanjikan jika semua infrastruktur dasar itu akan siap. Terlebih lagi sesuai konsep master plan penataan Gili Gede itu tidak boleh ada pengeboran sumur.“Air itu harus disiapkan dari luar pulau,” pungkasnya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas PUPR Lobar, I Made Arthadana mengungkapkan pemasangan kebutuhan air berih untuk Gili Gede direncanakan akan dilakukan pada 2020. Termasuk seluruh kebutuhan fasilitas untuk kawasan wisata Gili Gede itu.“Semua kita rencanakan dan terus kita koordinasikan lebih lanjut untuk pembangunan fisiknya,” ungkap Made.

Lantas bagaimana teknis pemasangannya ? Made menjelaskan nantinya pihaknya akan membuat perencanaan penyaluran air dari darat Pulau Sekotong menuju Pulau Gili Gede. Pihaknya pun akan lebih dahulu melihat sumber air untuk kebutuhan Gili tersebut. Termasuk kemungkinan mengkoneksikan pada lokasi Bendungan Meninting yang akan segera dibangun.“Tentunya nantinya lewat jalur bawah laut jadinya. Nantinya lebih lanjut kita akan bicarakan dengan PDAM yang mengelola itu,” pungkasnya. (her)