Saat TRC BPBD Berjibaku Droping Air, Honor Minim, Kerja Sampai Malam “Diintai” Marabahaya

Tim TRC BPBD Lobar saat mendorong kendaraan melewati medan berat saat droping air ke wilayah Lembar.(Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Pemkab Lombok Barat (Lobar) hampir tiap tahun disibukkan dengan penanganan bencana kekeringan. Tahun ini kekeringan meluas hingga tujuh kecamatan, sehingga butuh penanganan ekstra.  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pun memiliki petugas Tim Reaksi Cepat (TRC) yang tetap siaga turun kapan diperintahkan. Honor minim tidak jadi kendala bekerja di lapangan.

Mendustribusikan air bersih ke masyarakat yang mengalami krisis air seolah menjadi kegiatan rutin tahunan dari TRC yang dibentuk BPBD Lobar. Mereka tak hanya rela bekerja hingga malam hari, mereka juga menantang bahaya selama mengangkut air ke daerah yang kondisi medannya berbahaya.
Sayangnya, beratnya pekerjaan mereka tak sebanding dengan honor yang mereka peroleh. Honor yang mereka peroleh terbilang minim, hanya Rp 30ribu sehari. Menurut petugas TRC yang enggan disebutkan namanya mengakui, saat ini tim TRC secara bergilir mendistribusikan air ke masyarakat yang mengalami krisis air bersih. “Bahkan kami kerja pagi sampai malam, bahkan pernah kami turun droping air jam 2-3 pagi, demi masyarakat kami turun,” tuturnya pada Suara NTB awal pekan ini.

Masyarakat kata dia saat ini sangat membutuhkan air bersih, kalau tidak dibantu air bersih maka masyarakat akan lebih menderita lagi. Sehingga mau tidak mau, ia bersama rekan-rekannya pun turun droping air tak kenal waktu. Terkadang kata dia dalam sehari, pihaknya mendroping air 4-5 kali.

Masyarakat kata dia butuh air untuk keperluan sehari-hari, keperluan acara dan meninggal. Selama pengiriman air tutur dia, suka duka dialami rekan-rekan TRC. “Pernah kita ke Dusun Klape, Lembar jam 2 dini hari,  mobil pengangkut tangki ndak mampu naik. kami pun hampir kecelakaan,”kata dia.

Kendaraan yang ditumpangi mengalami oleng,

akibat tandon berisi air terjatuh ke belakang. Ditambah lagi medan yang begitu sulit. Namun karena demi kebutuhan masyarakat, pihaknya tetap melanjutkan perjalanan hingga ke rumah warga. “Di sana sudah banyak warga menunggu, itulah kenikmatan kami bekerja. Bisa menyuplai air dan warga sangat senang dibawakan air,”imbuh dia.

Tidak itu saja, tim TRC juga pernah dicegat ditengah jalan oleh warga menggunakan parang. Warga ini mencegat karena ingin diberikan air bersih akibat kondisi kekeringan yang dialami.

Diakuinya, uang makan minum ini senilai Rp30.000 sehari sangatlah minim, namun petugas TRC tak bisa berbuat banyak. “Kami sudah usulkan tapi ndak ada realisasi,” imbuh dia. Ditambah lagi, lanjut dia, biaya BBM tidak ada diberikan. Dana hanya cukup untuk makan minum saja dan beli air. “Di sini pintar-pintar kami mengatur dan mensiasati untuk BBM ini,” imbuh dia.

Sementara itu,  Kepala Pelaksana BPBD Lobar H. M. Najib mengatakan sistemnya kerja TRC ini menggunakan ship-shipan (bergilir). Mereka kata dia mendapatkan honor daerah sebesar Rp 750 ribu dan makan minum Rp300 ribu, sehingga dalam sebulan mereka dapat honor Rp 1.050.000. “Ini yang rutinitas tiap bulan, nanti kalau ada yang pengiriman air mereka dapat (honor) lain lagi,” jelas dia.

Ada tidak ada kejadian kata dia, mereka tetap mendapatkan uang makan minum. Menurut dia, uang honor Rp 30 ribu yang dimaksudkan tersebut di luar makan minum.  Terkait uang pembelian BBM untuk pengiriman air, Najib mengaku dana operasional diatur oleh tim. Namun pada APBD-P akan ada tambahan untuk uang BBM. Menurut dia, para tim TRC ini sangat diperhatikan. (her)