Kades Sesela Kritik Penanganan Sampah

Kades Sesela H. Abu Bakar turun melihat kondisi sampah di desanya yang kerap dikeluhkan warga dan wisatawan. (Suara NTB/her)      

Giri Menang (Suara NTB) – Kepala Desa (Kades) Sesela Kecamatan Gunungsari H. Abu Bakar mengkritisi penanganan sampah di daerahnya yang nota bene kawasan wisata. Pasalnya, penanganan sampah oleh pemda di daerah setempat kurang maksimal, baik dari sisi sarana prasarana dan intensitas pengangkutan sampah. Akibatnya kondisi sampah pun sering menumpuk, sehingga kerap kali dikeluhkan oleh wisatawan yang berkunjung ke lokasi pasar seni di daerah setempat. Pihaknya mengusulkan ada penambahan dan pengolahan sampah di desanya agar sampah bisa ditangani lebih maksimal.

Ditemui di kantornya, Kamis, 4 Juli 2019 H. Abu Bakar didampingi sekretaris desa bersama Bhabinkamtibmaspol Bripka Mujahib dan Babinsa Serma Zulkifli mengatakan sampah ini menjadi persoalan pelik di desanya, bahkan masuk skala prioritas penanganan di semua dusun. Rata-rata para kadus menyampaikan agar ada solusi penanganan sampah dimaksimalkan. Untuk solusi penanganan sampah ini, ujarnya, ada langkah dari tiga desa (Desa Sesela, Jatisela dan Midang) yang berada di satu jalur di daerah itu untuk berembuk. Tiga desa ini ingin menyampaikan masalah sampah langsung ke Bupati Lobar H. Fauzan Khalid.

Sebab lanjut dia, beberapa penyebab yang menyulitkan penanganan sampah terkait jumlah penduduk yang padat. Tingginya volume sampah ini, tidak dibarengi dengan infrastruktur dan sarana penanganan yang memadai, seperti pembuangan sampah yang jadi persoalan.  “Alat kendaraan untuk mengangkut sampah  ini sangat minim, itu yang menangani di desa kami saja, belum desa lain,” tegas dia.

Kondisi ini kata dia menyebabkan penanganan sampah kurang maksimal. Di satu sisi, pengangkutan sampah yang dilakukan dinas terkait hanya 1 kali dalam seminggu. Itupun, kata dia, di satu titik saja, sementara tempat pembuangan di dua titik. Satu titik yang diangkut OPD hanya di Pasar Sesela. Sedangkan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di lapangan menjadi persoalan, sebab belum ada penanganan, sementara semua sampah di desa ini dibuang ke sana. Bahkan desa-desa lain juga membuang sampah di sana.

Kondisi ini kata dia menimbulkan persoalan di masyarakat sebab lingkungan menjadi kotor dan kesehatan terganggu. Ke depan ia berharap agar Pemkab lebih proaktif membantu desa. Paling tidak, kata dia, pengangkutan dilakukan tiga kali dalam sepekan. Kalau bisa juga kata dia, kesepakatan tiga desa disiapkan alat truk pengangkut sampah setiap hari. Selain itu, ada tempat pengolahan sampah, di mana ada aset pemda di desa setempat yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi. “Perlu juga ada TPA di daerah ini,”imbuh dia.Pihaknya akan bersurat ke kabupaten untuk menggunakan lahan ini dan membangun tempat pengolahan sampah.

Sementara itu Plt Kadis Lingkungan Hidup (DLH), Suhaili mengatakan, pihaknya akan turun ke desa ini, sebab kades setempat juga pernah menyampaikan persoalan sampah tersebut. Diakui pengangkutan sampah di desa ini ada jadwal satu kali dalam sepakan. Ke depan pihaknya akan mencoba menambah intensitasnya. “Nanti kami akan turun ke Desa Sesela,” janjinya.

Terkait lahan ini, kata dia, pihaknya belum konsultasi ke BPKAD.  Pihaknya berharap agar kades bersurat ke BPKAD untuk penggunaan lahan pemda ini, pihaknya nanti akan berupaya memfasilitasi. (her)