Polisi Bongkar Kasus Pembuangan Bayi di Labuapi, Tersangka Seorang Mahasiswi

Kapolres Lobar Heri Wahyudi didampingi Kanit Idik IV Satreskrim, Ni Nyoman Sri Jayanthi saat jumpa pers, Selasa,  14 Mei 2019 (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Polres Lombok Barat (Lobar) akhirnya berhasil membongkar kasus pembuangan bayi di Labuapi yang terjadi bulan Oktober tahun 2018 lalu. Kasus ini terungkap setelah polisi mendapat keterangan saksi dari adik kandung tersangka yang berstatus seorang mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi di Mataram. Polisi pun menyeret mahasiswi 21 tahun asal Desa Bagik Polaq Kecamatan Labuapi itu untuk diproses hukum.

Sebelumnya, penemuan bayi malang tersebut sempat mengebohkan warga setempat tanggal 30 Oktober 2018 lalu. Bayi yang masih terbungkus dalam kresek plastik tersebut dibuang di sebuah TPS dan ditemukan seorang pemulung di Dusun Jogot Timur Desa Bagik Polak. “Setelah dibuka oleh pemulung, ternyata di dalamnya ada bayi laki-laki berbungkus kain sarung,” terang Kapolres AKBP Heri Wahyudi didampingi Kanit Idik IV Satreskrim, Ipda Ni Nyoman Sri Jayanthi SH, dalam jumpa pers, Selasa,  14 Mei 2019.

Melihat peristiwa itu, pemulung tidak menunggu lama dan melaporkannya ke Kepala Desa Bagik Polaq. Kemudian Kades setempat mendatangi TKP serta melaporkannya ke Polsek Labuapi.”Kepala desa yang mengetahui ada penemuan bayi, langsung menghadap dan melaporkan kejadian tersebut di Polsek,” ujarnya.

Kapolres dalam keterangan persnya menerangkan, setelah polisi melakukan proses pengembangan dan penyelidikan, kasus pembuangan bayi laki-laki  tersebut ternyata menyeret tersangka S seorang mahasiswi 21 tahun yang beralamat di Desa Bagik Polaq.

“Kini tersangka S masih dalam penanganan Unit Perlindungan Anak Polres Lombok Barat. Berdasarkan keterangan dan pernyataan saksi, akhirnya polisi berhasil meringkus dalam perjalanan proses panjang,” terangnya.

Sementara, hasil penyelidikan polisi di lapangan menyebutkan, bahwa yang membuang bayi adalah Juniardi dengan dua orang lainnya atas nama JM dan SL. “Juniardi ini adalah adik dari tersangka S yang awalnya tidak mengetahui isi dari kresek plastik berisi bayi,” jelasnya.

Berdasarkan keterangan dari tersangka S, bahwa barang buangannya adalah sampah dan itu tidak dibuka sama sekali oleh adiknya. “Keterangan saksi bahwa setelah gempar ditemukan, barulah diketahuinya bahwa bungkusan plastik yang dibuangnya itu ternyata seorang bayi laki,” urainya.

Polisi telah melakukan upaya visum luar serta melakukan otopsi dengan harus membongkar kuburan bayi yang dimaksud. Setelah menerima hasil visum dari puskesmas menyebutkan bahwa, bayi memang sudah cukup umur untuk lahir kemudian perkiraan meninggal yaitu 24 jam setelah ditemukan. “Hasil otopsi yaitu dibagikan kepala terdapat benturan yang mengakibatkan pada saat janin masih hidup dan tampak kepalanya agak gepeng sedikit,” ujarnya.

Menurut Heri, setelah dihimpun keterangan tersangka mengatakan, bahwa sebelum melahirkan awalnya tersangka merasa mules dan ingin buang air besar dengan langsung menuju kamar mandi dan akhirnya melahirkan.”Keterangan tersangka pada saat melahirkan, bahwa bayi pada saat itu sudah tidak bergerak dan tidak menangis. Karena dianggap bayi sudah meninggal dan tersangka membungkusnya dalam kresek plastik,” bebernya.

Tersangka dikenakan pasal 80 ayat 3 undang undang no 35 tahun 2014 tentang perubahan Undang Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman di atas 5 tahun. (her)