Gelombang Tinggi, Dua Truk Terbalik di Kapal Penyeberangan Padangbai – Lembar

Truk yang terbalik diatas kapal ketika dalam perjalanan penyeberangan dari Pelabuhan Padangbai menuju Lembar. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Insiden ditengah laut kembali terjadi di lintasan penyeberangan padabai – Lembar. Kali ini,  dua unit truk muatan KMP. Munic VII terbalik di atas kapal Minggu,  24 Maret 2019 sekitar pukul 12.15 siang. Penyebab truk terbaik diatas kapal diduga akibat  gelombang tinggi menghantam kapal,  sehingga mengakibatkan tali yang pengikut truk putus sehingga kendaraan yang bermuatan dengan ketinggian 4 meter  tersebut terbalik. Akibat kejadian ini 10 unit kendaraan Roda dua rusak tertimpa truk.

Informasi yang diperoleh wartawan menyebutkan,  bahwa KMP. Munic VII berangkat dari pelabuhan Padangbai pukul 09.15.  Konfirmasi dari pihak darat, kejadian truk terbalik di seputar Gili Poh, sekitar 3 jam perjalanan.  Lalu sekitar 15.00 sore barulah kapal itu riba di pelabuhan Lembar untuk proses bongkaran.

Koordinator Satuan Pelayanan Penyeberangan BPTD wilayah Lembar Nelson Dalo yang dikonfirmasi suara NTB membenarkan kejadian tersebut. “Kejadian (truk terbalik)  didalam kapal itu tadi siang,  kapal dari padangbai menuju lembar. Dua truk terbalik menimpa 10 kendaraan roda dua.  Sore hari sekitar pukul 15.00 kapal bongkar di pelabuhan lembar,” jelas Nelson.

Dijelaskan, truk

terbalik disebabkan hempasan gelombang yang cukup tinggi di perairan selat Lombok. Akibatnya,  muatan oleng dan tali putus sehingga mengakibatkan truk terbalik. Setelah beberapa jam dalam perjalanan,  sekitar pukul 15.00 wita kapal nyandar di dermaga II untuk melakukan bongkaran.

Jumlah kendaraan yang terguling kata dia, 1 unit Truk Sedang dan 1 unit Tronton.  Kendaraan yg terguling menimpa 1 unit kendaraan kecil dan 10 unit sepeda motor. Pihak pelabuhan pun langsung melakukan proses penanganan dengan Melakukan koordinasi dengan petugas jasaraharja putra mengenai penanganan asuransi.

Selain itu, berkoordinasi dengan petugas pelayaran PT. Munic Line untuk proses pemindahan barang dari kendaraan yang terbalik dilakukan di tempat homebase kapal sehingga tidak mengangu pelayanan di dermaga.

Diakui sejauh ini memang kerap kali insiden ditengah laut disebabkan muatan kendaraan truk yang terlalu tinggi. Padhal pihak pelabuhan membatasi ketinggian muatan mencapai 4.2 meter. Penambahan muatan kata dilakukan di tengah perjalanan oleh Oknum sopir.

Muatan ini kata terus dilakukan pengawasan oleh pihaknya agar tidak dilakukan insiden semacam ini.  Pengawasan muatan ini sendiri dilakukan di jembatan timbang. Ia menambahkan,  akibat insiden ini tak berdampak terhadap pelayanan pelabuhan.”Tidak sampai menyebabkan antrean, “jelas dia . (her)