PJU Tak Berfungsi, Senggigi Memprihatinkan

jalan di Sennggigi yang hanya di terangi lampu-lampu kendaraan. Nampak juga ada wisatawan asiang yang berlalu lalang menggunakan lampu ponselnya.

Giri Menang (suarantb.com) – Pusat wisata Senggigi, Lombok Barat di malam hari kondisinya cukup memprihatinkan. Semangat recovery Lombok pascagempa nampaknya berat, bila fasilitas pendukung kenyamanan wisatawan tak terpenuhi sebagaimana mestinya.

Dalam beberapa hari terakhir, kenyamanan di Senggigi terganggu. Penerang Jalan Umum (PJU) di sepanjang jalan dari Meninting, Batu Layar, hingga ke puncak jalan di Senggigi sebelum masuk perbatasan dengan Lombok Utara tak berfungsi. Nyaris, perangkat PJU yang di pasang oleh Pemkab Lombok Barat hanya menjadi pajangan.

Minggu malam, 24 Februari 2019, dari pemantauan media ini, jalan-jalan di sepanjang pusat pariwisata Lombok ini tak seperti biasa. Mulai dari Jembatan Meninting, ujung senggigi, bisa dihitung jumlah PJU yang lampunya menyala. Itupun, PJU-PJU yang ada di pintu-pintu masuk hotel dan penginapan.

Jalan-jalan di Senggigi hanya di terangi lampu-lampu kios, atau lampu-lampu dari KWh yang di pasang kolektif oleh para Pedagang Kaki Lima (PKL). Ditambah lampu-lampu kendaraan. Kondisinya memprihatinkan bila melihat beberapa wisatawan asing yang berlalu lalang menggunakan lampu ponselnya.

“Sudah beberapa hari ini lampu-lampu PJU ini tidak menyala,” kata Rinasi, salah satu pedagang cilok keliling di Senggigi.

Rinasi adalah salah satu pedagang asal Lingsar Lombok Barat yang telah lama berjualan di Senggigi. Setiap malam ia menyusuri sepanjang jalan di Senggigi, mencari keburungan orang di setiap spot kumpul di Senggigi.

Rinasi di jumpai di komplek lapak PKL di depan makam Batu Layar, saat sedang menunggu pembeli. Ia menumpang siraman cahaya dari lampu milik PKL disana, agar rombongnya terlihat. Ia tak cukup berani parkir di tempat-tempat yang gelap, khawatirnya terjadi kecelakaan.

“Lebih baik parkir disini saja, yang ada cahaya lampu. Kita khawatir terjadi tabrakan. PJU-PJU ini hanya hidup saat hujan lebat. Mungkin hidupnya di bantu hujan,” selorohnya.

Harapannya, pemerintah daerah sebagai penanggung jawab tak membiarkan Senggigi gelap. Agar para pedagang kecil di sepanjang jalan Meninting, Senggigi nyaman, demikian juga wisatawan.

Harapan sama juga di lontarkan Kahfi, salah satu pedagang lapak di depan makam Batu Layar. Ia juga mengkhawatirkan pemadaman PJU bila terus berlanjut. Selain sepi pembeli, mereka juga yang berjualan tak nyaman. Untungnya, mereka terbantu oleh lampu-lampu yang dipasang kolektif bersama pedagang-pedagang lainnya.

“Lampu saya ini 7 watt. Sementara PJU ndak hidup, untung ini dulu yang jadi penolong,” ungkapnya.

Harapannya sama, pemerintah daerah menangani secepatnya. Di konfirmasi ke pihak PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Provinsi NTB, Taufik Dwi Nucahyo mengatakan, pada prinsipnya PLN memberikan support penuh kebutuhan listrik untuk mendukung bangkitnya kembali Lombok pascagempa.

Taufik menginformasikan, suplay daya ke wilayah Senggigi dari pemantauannya di system cukup aman. Tak ada pemutusan PJU oleh PLN unit ULP Ampenan.

“Untuk instalasi dan pemeliharaannya bisa ke Pemda Lombar selaku penanggung jawab,” demikian Taufik. (bul)