Korban Gempa di Limbungan Gunungsari Pasrah

Warga Dusun Limbungan Utara Kecamatan Gunungsari membangun huntara menggunakan dana pribadi. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Korban gempa di Dusun Limbungan Selatan Desa Taman Sari Kecamatan Gunungsari mengaku pasrah dengan keadaan rumah mereka yang tak kunjung bisa dibangun. Dana bantuan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi rumah mereka sampai saat ini belum ada titik terang. Mereka mempertanyakan kenapa sampai saat ini korban gempa di wilayah setempat belum juga mendapatkan buku rekening. Padahal usulan dari warga dan dusun sudah disampaikan pascagempa lima bulan lalu.

Tidak hanya belum mendapatkan rekening bantuan, korban gempa yang berada di dusun setempat juga tak memperoleh bantuan hunian sementara (huntara). Mereka pun terpaksa membangun sendiri huntara dengan biaya sendiri.

Khaerul Amin salah, korban gempa di Dusun Limbungan Selatan Desa Taman Sari mengaku korban gempa di daerah setempat pasrah.  “Kalau ada bantuan syukur, tidak ada juga sabar. Semua korban gempa di sini belum dapat rekening ini, jangankan ada kejelasan soal dana bantuan,”keluhnya.

Diakui, korban gempa di daerah itu hanya diperhatikan saat tanggap darurat. Setelah dicabut tanggap darutat tidak ada sama sekali. Warga kata dia hanya diajak sosialisasi saja, namun sampai saat ini belum ada kejelasan. Setahunya hanya Dusun Medas yang sudah menerima rekening, jumlahnya pun sedikit. Diakuinya, bantuan huntara juga tidak ada di wilayah setempat. Sehingga warga pun masih ada yang tinggal di tenda-tenda.

Akibat ketidakpastian bantuan ini, warga pun  membangun sendiri huntara dengan biaya pribadi. Termasuk dirinya membuat membuat huntara di tengah kebun. Biaya yang dihabiskan mencapai Rp  2 juta. Ia membangun huntara model rumah panggung dari bambu. Ada juga warga membuat huntara menggunakan triplek dan kalsiboard.

Saat ini, ujarnya, warga setempat mengalami persoalan banyak penyakit yang menyerang warga. Terutama yang tinggal di kebun. “Saya pernah terkena malaria, karena tinggal  di kebun,” aku dia. Ia berharap agar pemerintah peduli terhadap korban gempa di wilayah setempat. Sebab hampir rata korban gempa tinggal di bawah terpal.

Sementara Kadus Limbungan Selatan, Yahya mengatakan korban gempa di dusunnya memang belum mendapatkan rekening. Dari total jumlah korban gempa di daerah setempat sebanyak 174 terdiri dari 73 unit rusak berat, rusak sedang sebanyak 38 dan ringan sebanyak 63 belum ada satupun yang memperoleh rekening. “Kita menunggu informasi dari pemerintah, sebab  semua data sudah kami masukkan,”akunya.

Ia mengaku kebanyakan warga juga membangun sendiri huntara sebab warga tak tahan dengan kondisi yang kerap kali hujan. Pihaknya sudah menyampaikan hal ini ke pemda.  Pihak pemda sendiri berencana membangun Huntara namun warga menolak karena tidak mau dibangun disatu tempat.  (her)