103 Ribu Lebih Warga Lobar Masih Miskin

Warga sedang membuat garam di Sekotong. Dalam mengentaskan kemiskinan, khususnya kalangan petani garam, Pemkab Lobar melakukan sejumlah intervensi kebijakan. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Beberapa persoalan yang menjadi prioritas pembangunan di Lombok Barat (lobar) ke depan, masih menyangkut kemiskinan, pengangguran terbuka, pertumbuhan ekonomi dan IPM serta keamanan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Dari ke empat isu ini, kemiskinan dan pengangguran berhasil ditekan. Kemiskinan bisa ditekan sebesar 1,26 persen dari angka 16,46% di Tahun 2017 menjadi 15,20% di tahun 2018 ini.

‘’Meskipun berhasil ditekan, angka ini masih terbilang tinggi, karena jika melihat jumlah warga yang masih hidup miskin di Lobar mencapai 103.770 jiwa. Sedangkan pengangguran terbuka tersisa 11 ribu. Untuk mengatasi sejumlah persoalan ini, Pemkab Lobar akan menggenjot sektor pemberdayaan masyarakat melalui intervensi program garam rakyat dan gula aren,’’ ujar Bupati Lobar H. Fauzan Khalid saat refleksi akhir tahun, Jumat, 28 Desember 2018.

Bupati mengatakan berdasarkan data sensus BPS tahun 2018, angka kemiskinan di Lobar menurun dari tahun 2017 sebesar 16,46 persen atau setara 110 ribu jiwa lebih. Mengalami penurunan penduduk miskin mencapai 6-7 ribu jiwa menjadi 103.770 jiwa tahun 2018. Akan tetapi diakuinya, jika kemiskinan 15,20 persen ini dikonversi, maka jumlah penduduk miskin di Lobar masih tinggi. “Penduduk miskin di Lobar sebanyak103.770 jiwa, lumayan banyak ini,” aku bupati.

Capaian penurunan kemiskinan ini, klaimnya, melampaui target RPJMD sebesar 16,59 persen. Menurutnya, posisi tingkat kemiskinan Lobar masih di bawah rata-rata nasional dan provinsi. Untuk menangani kemiskinan ini, pemda terus menggenjot program intervensi. Di antaranya, program perbaikan rumah kumuh yang dari tahun ke tahun terus meningkat, baik sumber anggaran dari daerah, provinsi dan pusat.

Selain itu, pihaknya menggenjot program diversifikasi melalui intervensi program pemberdayaan masyarakat. Pihaknya mengintervensi program garam rakyat dan gula aren sejak tahun 2017. Rencananya bulan Agustus lalu direncanakan dilakukan ekspor gula aren dan gula semut ke luar negeri, namun karena gempa ekspor pun batal padahal sudah disiapkan 2 kontainer gula semut untuk dikirim ke Malaysia.”Tapi karena terjadi gempa, ekspor pun batal tapi kelompok tetap berproduksi,”imbuhnya.

Untuk program garam rakyat, pemda ingin agar ke depan bisa mandiri. Artinya bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Saat ini sudah ada 10 hektare lahan pengembangan garam di Sekotong. Tahun depan, pihaknya menargetkan perluasan lahan pengembangan garam rakyat seluas 25 hektare. Keseriusan pemda mengembangkan garam ini, pemda bersama tokoh masyarakat dan petani garam studi banding ke Madura. Sejauh ini, kata dia, banyak warga yang kurang mampu bisa diserap di sektor pengembangan garam rakyat tersebut. Ke depan, potensi pasar garam ini sangat besar dari pihak PDAM. Setiap tahun pihak PDAM membutuhkan 500 kilogram per hari untuk pembersih air. Selain dikembangkan sebagai sentra produksi garam, kawasan ini juga ke depan akan dijadikan wisata.

Sedangkan untuk angka pengangguran terbuka di Lobar tidak terlalu tinggi. Secara umum angka pengangguran bisa ditekan dari 3,28 persen tahun 2017 menjadi 3,24 persen di tahun 2018 . jika diangkakan pengangguran mencapai 11 ribu jiwa. “Ini PR kami ke depan,” jelasnya.

Berbagai upaya untuk menekan angka pengangguran ini pun sama seperti pada kemiskinan. Pemda juga fokus mengundang investor, menciptakan entrepreneur dan mendorong peranan BUMDes. Diakui warga Lobar banyak sekali bekerja ke luar negeri dan dilayani melalui layanan terpadu satu atap. (her)