Tak Ada Jaringan, Korban Gempa di Lobar Kesulitan Akses Informasi

TERPENCIL - Kondisi daerah terpencil dan blank spot menyulitkan korban gempa mengakses informasi bantuan. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Sejumlah wilayah di Lombok Barat (Lobar) yang menjadi lokasi terdampak bencana gempa masuk kategori terpencil di atas bukit. Kondisi terpencil ini juga menjadi salah satu kendala penanganan korban gempa, bahkan hingga dua bulan pascabencana korban gempa di wilayah ini belum juga mendapatkan kepastian bantuan dari pemerintah.

Hal ini disebabkan sulitnya memperoleh informasi akibat kondisi daerah yang blank spot alias tak bisa diakses sinyal telekomunikasi. Pemdes setempat kesulitan untuk mengakses dan mengirim data perihal kerusakan korban gempa ke pihak Pemda.

Seperti dialami korban gempa di sejumlah dusun terpencil, Dusun Erat Mate dan Ranjok Barat Desa Mekar Sari Kecamatan Gunungsari. Kondisi korban gempa di daerah terisolir  ini begitu memprihatinkan. Ribuan korban gempa tinggal ditenda-tenda darurat dengan kondisi seadanya. Minim pasokan air bersih, bantuan logistik dan terpal, sehingga mereka harus berjejal di tenda darurat.

Yang paling miris, sanitasi yang buruk menyebabkan mereka terpapar banyak penyakit. Mereka diserang penyakit baik diare, gatal-gatal hingga malaria. “Kondisi ini diperparah akibat akses jalan yang rusak parah, sehingga warga sulit dijangkau bantuan. Tak itu saja, daerah ini pun blank spot atau tidak memiliki sinyal telekomunikasi. Akibat kondisi ini korban begitu sulit diakses terutama melalui telekomunikasi,” kata Jumnah Arrasyid, warga setempat.

Ia mengakui, saat ini para pengungsi sangat butuh rumah sementara yang layak, karena mereka tinggal di tenda-tenda akibat rumah mereka hancur. Bahkan ketika hujan turun tenda-tenda warga hanyut, warga terpaksa mencari tempat yang teduh untuk mengungsi.

Kondisi warga semakin memilukan akibat kondisi akses jalan yang rusak parah. Akses jalan kabupaten di dusun itu semuanya jalan tanah dengan kondisi yang buruk, sehingga menyulitkan warga untuk diakses bantuan. Warga yang sakit pun cukup kesusahan ketika mau berobat. Ibu yang melahirkan harus digotong ke lokasi puskesmas yang jaraknya begitu jauh dari pemukiman warga. “Ditambah lagi sinyal telepon sangat sulit di sini, kalau mau nelepon harus turun bukit baru dapat sinyal,” tuturnya.

Kepala Seksi  Pemerintahan Desa Mekar Sari Nasrun mengatakan di desa setempat terdapat 7 dusun dengan 1603 KK dan jiwa 6 ribu lebih. Dari tujuh dusun tersebut, 4 dusun di antaranya tergolong terisolir antara lain, Dusun Ranjok Timur, Ranjok Barat, Erat Mate dan Malaka.

Korban gempa yang mengungsi mencapai ribuan warga yang tersebar di 120 titik pengungsian lantaran sekitar 1.400 unit rumah warga rusak parah. Sejauh ini ada sebagian dari pengungsi yang pulang dan membuat tenda di tempat tinggal masing-masing. Namun lagi-lagi mereka terkendala terpal dan selimut masih minim. Para korban gempa di wilayahnya juga sangat buruh air. Selain rumah warga, ada 10 masjid dan 5 musala serta 3 pura rusak parah.

Selain masalah kebutuhan dasar, warga setempat juga mengeluhkan akses rusak parah sepanjang 7 kilometer. Akses jalan kabupaten ini menjadi penghubung sejumlah desa antara lain Bukittinggi dan Gelangsar. Namun puluhan tahun kondisi jalan ini belum mendapat perhatian dari Pemda. Sebelumnya ada tim Pemda yang turun melakukan pengukuran, warga dijanjikan pembangunan jalan itu sepanjang 1.5 kilometer.

Sebelumnya Bupati Lobar H. Fauzan Khalid mengatakan pasokan bantuan untuk korban gempa terus disalurkan, meski tanggap darurat sudah selesai, bahkan posko utama pun telah ditarik dari kantor Camat Lingsar ke Kantor BPBD Lobar. Pihaknya tetap mengupayakan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar korban gempa. Bahkan di lokasi-lokasi di wilayah pelosok yang terbilang wilayah sulit dijangkau pun telah disiapkan langkah-langkah penanganan.

“Seperti sejumlah dusun di Batulayar di antaranya Dusun Duduk Atas Desa Batulayar Barat, Apit Aik, Paoku Lombok, Penanggak, Pelolat. Untuk droping bantuan ke lokasi-lokasi pelosok ini jelas Bupati langsung ditangani oleh tim kabupaten. Bantuan langsung diantar oleh tim Pemda tidak melalui desa. Ada juga yang langsung melalui masing-masing kadus, hal ini untuk memastikannya bahwa bantuan tersebut nyampai ke warga yang ada di lokasi pelosok tersebut,” jelas Fauzan belum lama ini. (her)