Tenda Roboh, Korban Gempa di Lobar Kebingungan

TERGENANG AIR - Kondisi lokasi pengungsian korban gempa di  Desa Selat Narmada yang tergenang setelah hujan mengguyur, Minggu sore. Mereka mengharapkan pemerintah membangun huntara atau mempercepat pembangunan rumah yang rusak akibat gempa. (Suara NTB/her)

Advertisement

Giri Menang (Suara NTB) – Hujan mulai mengguyur daerah Lombok Barat (Lobar) dan sekitarnya. Bagi korban gempa, hujan ini justru menjadi musibah, lantaran saat ini mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian dengan kondisi memprihatinkan. Saat hujan turun, korban gempa kebingungan harus pindah kemana lantaran tendanya tergenang air. Sebagian korban gempa dievakuasi ke musala dan masjid yang masih utuh. Banyak di antara korban gempa dijangkiti penyakit, bahkan akibat hujan ini jumlah yang terkena penyakit dikhawaitrkan kian bertambah.

Hujan melanda Minggu,  23 September 2018 lalu membuat titik pengungsian tergenang air. Seperti di Dusun Belencong Desa Midang Kecamatan Gunungsari. Di sini terdapat 95 KK terendam genangan air hujan. Meski tidak terlalu lama, namun genangan setinggi mata kaki itu membuat warga terpaksa mengungsi kembali. Lantaran sebagai tenda pengungsian roboh. Bahkan para anak pengungsi tidak bersekolah akibat seragam dan perlengkapan sekolah yang basah. “Hujan tiba-tiba datang, luar biasa besarnya. Hampir sebagian tenda itu roboh belum lagi buku-buku dan pakaian sekolah, sampai dia libur anak-anak itu,” ungkap Kepala Dusun Belencong Bage, Najamudin yang ditemui, kemarin.

Saat banjir itu para warga bergotong memindahkan peralan yang dapat diangkat dari pengungsian. Seperti baju maupun buku sekolah anak. Sedangkan kasur dan peralatan dapur ditinggal. Setidaknya terdapat 95 KK dampak gempa yang mendiami pengunsian itu. 15 KK di antaranya mengalami rusak rumah berat. Sedangkan sekitar 80 persen lainya mengalami rusak sedang dan ringan.“Tapi ada sebagian warga yang sudah balik ke rumahnya,” sambungnya.

Diakuinya banjir yang terjadi siang hari itu mulai surut sekitar pukul 16.00 wita. Sebagai antisipasi terjadinya banjir, warga sementara waktu akan diungsikan di musala dan rumah warga sekitar yang tidak rusak. Selain itu, ia bersama warga akan bergotong royong membuat saluran air di sekitar pengungsian, sehingga air tidak akan tergenang.

Kondisi ini membuat warga berharap bisa mendapatkan bantuan hunian sementara (huntara). Mengingat hingga kini bantuan stimulan untuk rumah rusak berat belum diterima. Sehingga warga masih akan berdiam di lokasi pengunsian.”Sekarang kita berharap itu saja,” ujarnya.

Sama seperti lokasi pengungsian di desa selat kecamatan Narmada, banyak titik-titik pengungsian korban gempa dilanda banjir. Bahkan akibat tenda mereka roboh menyebabkan korban gempa basah kuyup terkena hujan. Berdasarkan pemantauan pasca banjir itu, suasana pengungsian terlihat sepi. Banyak kasur yang dijemur di luar tenda.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Lobar HM Najib mengatakan, pihaknya sudah turun ke lokasi terdampak genangan air akibat hujan yang melanda Minggu kemarin. Untuk penanganan pihaknya akan mendroping bantuan berupa tenda bagi korban yang tendanya ambruk. “Kami akan tangani dengan berikan tenda,”ujarnya. Ke depan pihaknya juga membangun huntara melalui bantuan NGO dan para pihak terkait. Sejauh ini sudah dibangun huntara di beberapa daerah terdampak. (her)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.