Meneropong Ancaman Merkuri Tambang Liar Sekotong

Giri Menang (Suara NTB) – Masyarakat Sekotong, Lombok Barat (Lobar),  masih menikmati hasil dari aktivitas penambangan emas tanpa izin. Saat bersamaan, disadari atau tidak, bahaya senyap mengancam dari penggunaan merkuri (Hg) berlebihan untuk memisahkan kandungan logam emas.

Dampak paling nyata adalah pencemaran air. Jangka panjang, manusia yang menanggung beban dampak merkuri pada tubuh, mengancam kerusakan otak dan gangguan ginjal.

Peneliti menyebut aktivitas tambang emas tanpa izin alias liar di Sekotong sebagai Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK). Fakta ditemukan, tambang liar di sana menghasilkan beban merkuri yang tinggi pada perempuan. Kesimpulan itu didapatkan dari penelitian yang dilakukan oleh International POPs Elimination Network (IPEN), Biodiversity Research  Institute (BRI), dan BaliFokus.

Khrisna Zaki dari BaliFokus, dihubungi Suara NTB dari Mataram pekan kemarin menjelaskan, hasil pengambilan sampel dari perempuan yang terlibat langsung di PESK.  Mereka menemukan tingkat merkuri yang secara signifikan di rambut mereka.

Pada data yang ditampilkan, di Sekotong, Indonesia, di atas 0,58 ppm sebanyak 100 persen,  dan di atas 1 ppm sebanyak 94 persen.

“Kedekatan dengan daerah industri besar atau area dengan hotspot yang disebabkan oleh aktivitas industri juga menyebabkan tingkat beban tubuh merkuri tinggi,” katanya.

 “Pada tingkat tinggi paparan merkuri ini dapat menyebabkan kerusakan otak, keterbelakangan mental, kebutaan, kejang dan ketidakmampuan berbicara,” katanya.

Didasarkan konvensi Minamata tentang Merkuri, BaliFokus meminta pemerintah mengambil tindakan dengan melarang impor dan ekspor merkuri dan disiplin untuk menghilangkan pencemaran merkuri dalam negeri sesegera mungkin.

Manusia dan Hewan Tercemar

Hasil yang sama ditunjukkan dalam penelitian Diah Fatmawati, ST., M.Sc, Dosen Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Mataram (UMM). Pada tahun 2010 lalu, Diah melakukan penelitian untuk tesisnya   di titik Sekotong Tengah,  Tembowong,  Berongas, dan Pemalikan.  Didapatkan hasil, bahwa sedimen atau endapan dan hewan yang hidup di muara sungai tercemar merkuri dengan kadar tinggi.

Baca juga:  Wagub : Usaha Pertambangan Harus Ramah Lingkungan

Ia belum bisa menentukan dari mana sumber merkuri itu. Namun disinyalir, kandungan merkuri dampak dari pertambangan emas liar yang dilakukan bertahun tahun di wilayah tersebut.

Pada proses pengolahan di tambang emas liar itu, merkuri digunakan untuk mengikat kandungan emas. Untuk memisahkannya, air pencucian ditambang itu ditiriskan dan kandungan merkuri ikut dalam pembuangan limbah tambang emas.

Jika limbah itu dibuang ke sungai, maka kandungan merkuri bisa sampai ke laut. ‘’Di situ dia di buang sungai, atau di pembuangan limbah yang tidak disemen. Kalau dibuang di sungai bisa sampai ke laut,” kata Diah.

Pada sedimen atau endapan di

muara sungai yang ditelitinya, ditemukan kandungan merkuri yang sangat tinggi. Tidak hanya pada endapan, pada tubuh hewan yang ada hidup di muara seperti gastropoda itu juga sudah tercemar merkuri di atas ambang batas.

Diah juga melakukan penelitian pada tahun 2016 lalu pada sejumlah sumur dan sungai di Sekotong, seperti di wilayah Sekotong Barat, Pelangan, dan Batu Putih. Sampel yang diambil secara acak itu menunjukkan bahwa ada kandungan merkuri di sejumlah air sumur dan sungai di wilayah itu. Namun demikian, masih berada di bawah ambang batas berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

“Ada kandungan merkuri tapi masih di bawah baku mutunya,” katanya.

Pencemaran merkuri ternyata tidak hanya sebatas pada air sumur dan sungai atau di sedimen muara sungai. Tetapi juga ditemukan di garam yang diproduksi di wilayah Sekotong. Diah mengatakan, pada tahun 2012 lalu, ia bekerjasama dengan salah satu lembaga donor dari Australia untuk peningkatan produksi garam di Sekotong.

Baca juga:  Kementerian ESDM Bangun Politeknik Pertambangan di NTB

Namun ketika akan melakukan observasi dan ia membeli sampel garam, ditemukan garam itu sudah mengandung merkuri. Diperkirakan masih dalam ambang batas baku mutu. Meskipun penelitian pada garam itu tidak dilakukan secara mendalam, Diah menduga dengan melihat di garam sudah ada kandungan merkuri, berarti air laut juga mengandung merkuri. Kerjasama dengan lembaga donor itu pun dibatalkan, karena adanya kandungan merkuri pada garam di wilayah itu.

“Dengan melihat kalau di garam sudah ada merkuri, berarti air laut kemungkinan mengandung merkuri. Apakah sudah tercemar? Bisa melihat (lakukan penelitian, red) di air laut,’’ katanya.

Berdampak Jangka Panjang

Diah menjelaskan, dampak dari merkuri pada tubuh manusia akan terasa dalam jangka panjang. Karena sifat merkuri yang bioakumulasi. Paling tidak membutuhkan waktu 10 tahun baru bisa merasakan dampaknya. ‘’Tergantung berapa dosisnya. Karena merkuri sifatnya terakumulasi, numpuk-numpuk. Kalau kadar merkuri di tubuhnya tinggi baru dia berdampak,’’ katanya.

Pada ikan yang sudah tercemar merkuripun sama. Apalagi dalam bentuk rantai makanan,ikan kecil yang akan dimakan ikan besar. Maka ikan besar itu akan tercemar merkuri jika memakan ikan-ikan kecil yang mengandung merkuri. Dan rantai makanan itu bisa sampai ke manusia. “Ikan yang dikonsumsi juga akan berdampak ke tubuh manusia,” jelas Diah.

 “Sudah ada kandungan merkuri di beberapa lokasi. Masih dikatakan aman, tetap harus diwaspadai juga karena sifatnya bioakumulasi itu,’’ pesannya. (ron)