Fauzan Khalid Realisasikan Komitmen

Ribuan Guru dan TOTT di Lobar Terima Insentif

Giri Menang (Suara NTB) – Jelang Lebaran ini, ribuan guru dan Tenaga Operator Tidak Tetap (TOTT) di Lombok Barat (Lobar) berbahagia. Pasalnya, mereka mendapatkan hadiah berupa dana insentif dari Pemkab setempat. Ribuan guru patut bersyukur karena baru pertama kali diberikan insentif oleh Pemda Lobar. Program ini merupakan komitmen Bupati Lobar, H. Fauzan Khalid kepada para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Fauzan Khalid merealisasikan komitmennya untuk memperhatikan para guru tidak tetap yang memiliki penghasilan tak layak.

Pemkab Lobar melalui Dikbud setempat menetapkan pemberian insentif bagi 1100 guru dan TOTT. Pada SK tahap pertama ini, jumlah yang diakomodir sebanyak 205 tenaga operator SD. Sisanya, tenaga operator di SD lain kemungkinan sudah berstatus PNS sehingga tidak dimasukkan. Atau ada SD yang belum punya nama operatornya baik di Dapodik. Sedangkan untuk guru tidak tetap SMP yang mampu terjaring sesuai Perbup sebanyak 95 orang se-Lobar. Ketentuan mereka bisa masuk menerima insentif setelah memenuhi syarat. Jumlah jamnya minimal 12, masa mengabdi di atas 5 tahun. Sedangkan guru tidak tetap SD yang dapat difasilitasi pada SK pertama ini sebanyak 711 orang.

‘’Total untuk guru tidak tetap yang masuk SK (dapat insentif) 806 orang. Sedangkan untuk operator 205 orang. Insentifnya diterima mulai hari ini (kemarin) melalui masing-masing UPTD Dikbud Kecamatan,’’jelas Kadis Dikbud M Hendrayadi saat menggelar pertemuan dengan Kepala UPTD Dikbud se-Lobar. Lebih jauh dikatakan Hendrayadi, SK  insentif untuk guru dan TOTT telah ditandatangani bupati sehingga bisa dieksekusi.

Pemberian insentif ini jelasnya, merupakan komitmen dari bupati untuk memberikan penghasilan tambahan yang layak bagi para guru. Guru dan tenaga operator yang terakmodir di SK ini jelasnya untuk SD dan SMP yang masa pengabdian dari 9 tahun ke atas. Sedangkan masa pengabdian di bawah 9 tahun belum bisa terakomdir untuk tahun ini. Diupayakan tahun depan bisa diakomodir. Kecuali jelas mantan Sekdis Dikbud ini, guru dan operator yang berada di daerah 3T (terpencil, terluar dan terisolir).

Untuk daerah 3T dan memenuhi syarat sudah diakomdir semua, dari 5 tahun ke atas masa pengabdiannya. Namun jumlah guru 3T yang memenuhi syarat sedikit. Guru yang dikategorikan 3T juga pernah menerima Gudacil. Semua guru ini diakomodir mulai masa kerja 5 tahun ke atas. Sedangkan guru yang mengajar di daerah datar, persyaratan masa mengabdi 9 tahun. Kenapa dibedakan? Karena jarang ada guru mau di daerah 3T, di samping jumlahnya juga terbatas untuk guru 3T.

Sistem pendistribusian dana insentif ini jelasnya, melalui UPTD Dikbud namun SK-nya belum dibagi. Per kecamatan bakal diberikan daftar nama guru dan operator sesuai kecamatan. SK belum dibagi, karena menurut Hendra ada beberapa hal yang perlu disempurnakan baik datanya. Hal ini karena ada kekeliruan sedikit pada data penerima guru, namun tidak terlalu fatal.  Mengantisipasi adanya kesalahan sasaran, pihaknya pun bakal memberikan data nama penerima insentif  ke UPT Dikbud yang berhak menerima. Sedangkan yang tak dibayarkan nama penerimanya dihapus. Penerima ini bakal diganti dengan yang lain menggunakan SK susulan. Diakui beberapa data penerima yang tak dobel dan tak sesuai dicoret.

Untuk data operator jelasnya, setelah dicek terdapat operator UPTD yang masuk. Tenaga operator UPTD ini sendiri dihapus, karena saat ini diberikan untuk operator sekolah saja. Pihaknya sendiri sudah ada rencana untuk memberikan insentif bagi tenaga operator UPTD. Namun belakangan tidak digabung dengan sekolah. Pihaknya sudah melakukan revisi supaya operator UPTD belakangan.

Diakui, di beberapa SD di dalam Dapodik tak punya nama operator. Pihaknya sendiri mengecek dengan Dapodik, supaya jangan sampai berbeda data. ‘’Saya akan berikan data sesuai dengan yang akan dibayarkan,’’jelasnya.

Selain itu jelasnya di SK itu, ada guru yang sudah masuk GTD namun masuk namanya sebagai penerima. Setelah dicek, jumlahnya hanya satu orang. Pihaknya terbuka dalam hal data penerima insentif. Sebab pihaknya tak ingin ada persoalan. Terkait kapan SK insentif ini bisa terbit, menurut Hendra kemungkinan selesai Lebaran baru diproses. Sedangkan untuk proses SK Tahap II diupayakan bisa tahun depan. Ia menambahkan, pemberian insentif ini diharapkan menjadi hadiah Lebaran bagi ribuan guru dan TOTT. ‘’Kami berharap ini menjadi hadiah Lebaran bagi rekan-rekan guru dan operator,’’ jelasnya. (her)