Lombok Elephant Park Ajukan Izin Kembang Biak Gajah

GAJAH - Gajah-gajah yang ada di LEP dan diupayakan untuk pengembangbiakan hewan ini di KLU. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Manajemen Lombok Elephant Park (LEP) mempertimbangkan untuk menambah jumlah gajah usai berkurangnya jumlah gajah akibat kematian gajah bernama Rambo. Penambahan populasi tidak hanya dengan menambah jumlah ekor, tetapi melalui perkembangbiakan gajah melalui proses kawin.

Owner LEP, I Ketut Suadika, kepada wartawan Senin,  15 Oktober 2018, mengungkapkan keberlangsungan gajah yang ada di kebun binatang perlu dipertimbangkan untuk jangka panjang. Saat ini, LEP hanya memiliki 3 ekor gajah masing-masing 2 betina yang diberi nama Melati (39 tahun), Cindy (36 tahun) dan 1 jantan bernama Bayu (19 tahun).

Iklan

“Usia betina sudah cukup tua, kita juga belum tahu berapa usia selama di hutan sebelum dimasukkan ke penangkaran,” ujarnya.

Dijelaskan, sifat alami satwa gajah karena perbedaan umur membuat gajah jantan tidak tertarik mengawini kedua betina. “Kita sedang ajukan izin breeding. Kemarin (setelah gempa) Dirjen dan BKSDA sudah datang, Pak Dirjen bahkan menekankan tidak boleh ada satwa yang tidak ada pasangan,” katanya.

Pihaknya optimis, izin pembiakan gajah akan diberikan oleh Kementerian dan BKSDA. Terlebih lagi, hanya LEP yang bisa menyediakan sarana taman gajah sebagai wahana edukasi dan hiburan bagi masyarakat di NTB dan NTT.

Tercatat, LEP memiliki 52 spesies satwa dengan populasi 195 ekor. Pantauan koran ini, selain gajah di sana juga terdapat 4 ekor orang utan, 2 ekor kuda nil, 2 ekor buaya, 2 ekor Bekantan (kera putih), 2 ekor beruang madu, 3 ekor Landak, 1 ekor anak Anaconda, 3 sampai 4 ekor ular piton, 1 ekor ular kobra lokal, beberapa ekor higuana dan biawak. Paling dominan, LEP memelihara puluhan ekor burung langka berbagai jenis.

Sejak kejadian gempa bumi 5 Agustus 2018 silam, Suadika mengaku tertantang untuk tetap merawat seluruh spesies yang telah ia datangkan. Kesulitan utamanya adalah pada bahan makanan terutama buah dan sayur. Pasalnya untuk setiap ekor gajah membutuhkan 300 kg buah dan sayur dan minum 50 liter sehari. Sementara kuda nil, setiap ekornya memerlukan konsumsi 50 kg sayur sehari.

Ia mengatakan, sehari setelah gempa pasokan air sempat terganggu. Sementara buah dan sayur tidak tersedia di pasaran. Beruntung, pada hari ke empat, salah satu sahabatnya dari Bali mengirimkan bala bantuan.

“Stok pakan untuk buah dan sayur masih ada, tetapi hanya cukup untuk konsumsi 2 sampai 3 hari,” sambung Fellicia, Direktur LEP sekaligus istri dari Suadika.

Mereka juga sangat terbantu oleh hadirnya relawan dari berbagai organisasi, antara lain, Taman Safari, Taman Burung Bali, Taman Safari Prigen, Gembira Loka Zoo. Para NGO hadir mengirimkan tenaga dokter hewan, serta membantu membersihkan puing bangunan Taman Gajah yang hancur.

“Sekitar 12 orang relawan tinggal dan membuka posko sampai 3 minggu. Mereka memberi pertolongan pertama untuk satwa, karena saat itu mencari buah susah. Untuk kebutuhan air saja, kita sampai bongkar stok restoran untuk diberikan ke satwa,” jelas Fellicia.

Saat ini, situasi Taman Gajah sudah membaik dan sudah bisa dikunjungi. LEP sendiri membuka peluang kunjungan untuk paket edukasi dan trauma healing bagi anak-anak sekolah wilayah pulau Lombok. Cukup dibuktikan dengan KTP dan asal sekolah, siswa mendapat diskon tiket masuk. Dari harga normal tiket masuk dewasa (domestik) Rp 200 ribu menjadi Rp 50 ribu dan tiket anak-anak normalnya Rp 150 ribu menjadi hanya Rp 40 ribu. (ari)