Lomba Teater Tingkat Nasional SMAN 1 Gangga Masuk 10 Besar

Septian Paradesa (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Meski tidak meraih juara, prestasi non akademik siswa SMAN 1 Gangga Kabupaten Lombok Utara (KLU) patut diacungi jempol. Betapa tidak,  dalam Lomba Teater Tingkat nasional yang diadakan Kemendikbud di Lampung, September 2019 lalu, siswa delegasi Provinsi NTB ini mampu bersaing dengan ratusan SMA dari seluruh Indonesia.

Prestasi yang diraih itu bukan tanpa alasan. Siswa berhasil menampilkan performa Monolog mengesankan. Adalah Septian Paradesa, siswa kelas XII asal Dusun Karang Anyar, Desa Gondang ini, mampu membawakan Monolog berjudul Kayon karya Artur S. Nala. “Kayon bercerita seorang pemuda yang menyukai pewayangan. Suatu ketika lat pewayangan hilang,  pemuda itu mencarinya sampai ketemu,” ujar Septian menceritakan garis besar Kayon, Jumat, 28 Februari 2020.

Iklan

Sebelum tampil di tingkat nasional, Septian yang membawa nama sekolah harus berjuang melewati persaingan dengan sekolah lain. Di tingkat Kabupaten, Teater SMAN 1 Gangga menjadi juara I.

Ada 6 mata lomba monolog yang diikuti.  Empat mata lomba juara pertama, antara lain, teater, gitar solo, vocal putri, dan cipta puisi. Sedangkan dua mata lomba,  menduduki peringkat tiga yaitu baca puisi dan tari. “Saat lomba di provinsi, teater SMA 1 Gangga meraih juara I dan menjadi wakil di tingkat nasional. Di sana gagal juara, tapi masuk 10 besar. Kalau tidak salah antara peringkat 4 atau 6,” sambungnya.

Menyadari potensi yang dimiliki, Septian yang bercita-cita menjadi seorang seniman ini ingin mengembangkan bakatnya. Usai menamatkan studi di SMA 1 Gangga nanti, ia berniat melanjutkan kuliah di Institut Seni Yogyakarta.

Selain itu, Ia berharap kegiatan ekstrakurikuler SMAN 1 Gangga dapat kembali mencuri perhatian publik melalui proses regenerasi anak didik.  “Organisasi teater sendiri baru terbentuk 2018. Karena prestasi kemarin, sekarang hampir semua kawan-kawan kelas X ikut teater,” sebutnya.

Kegiatan non akademik ini berperan penting dalam menumbuhkan karakter anak didik. Penggalian bakat dan minat setidaknya diketahui setelah siswa menggeluti ekstrakurikuler tersebut. “Dukungan sekolah sudah optimal, walaupun panggung teater belum standar dan masih terbuka, tapi minimal sudah ada,” tandasnya. (ari)