Lomba Kasidah Jadi Sarana Syiar Islam

Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana didampingi Ketua DPD Al – Hidayah Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana memukul rebana sebagai tanda dimulainya lomba kasidah tingkat Kota Mataram. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Al – Hidayah menyelenggarakan lomba kasidah tingkat Kota Mataram. Selain sebagai sarana silaturahmi, juga sebagai upaya menunjukkan eksistensi musik Islam. Kasidah dinilai jadi sarana untuk syiar.

Ketua DPD Al – Hidayah Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana menyampaikan, kepengurusan DPD Al – Hidayah telah memasuki usia ke sepuluh tahun. Sebagai lembaga wanita dengan basis Islam tidak berapiliasi dengan partai politik. Organisasi ini berdiri secara independen.

Iklan

“Al – Hidayah ini organisasi independen. Berdiri sejak 1997. Tapi peserta justru takut ikut lomba,” kata Kinnastri dalam sambutannya. Penegasan disampaikan Kinnastri karena melihat peserta kasidah melihat-lihat apakah ada kepentingan politik dalam acara tersebut atau tidak. Namun demikian, dia menegaskan, kepentingan penyelenggaran kegiatan tersebut hanya untuk menunjukkan eksistensi musik kasidah di masyarakat.

Seiring waktu kesenian ini mulai meredup. Padahal, musik kasidah menjadi sarana syiar bagi agama Islam. “Peserta yang ikut 21 grup. Bahkan, satu orang kelompok kasidah berasal dari Lombok Timur,” sebutnya. Memainkan musik kasidah diharapkan tidak saja ibu-ibu. Tetapi harus ada regenerasi mulai dari tingkat SD, SMP, SMA sampai PT.

Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana mengapresiasi gagasan dari pengurus DPD Al – Hidayah menyelenggarakan event tersebut. Pasalnya, kegiatan ini jarang dilaksakanakan.  Kegiatan ini akan mewadahi eksistensi dari kasidah selama ini membutuhkan ruang untuk mengaktualisasikan diri untuk menghibur orang lain.

Apa yang dilakukan oleh kelompok kasidah di Mataram merupakan tanggungjawab untuk melestarikan kesenian dan budaya. “Kasidah ini musik yang terbentuk dari Persia. Di Indonesia berkembang dengan baik dan memiliki muatan Islam,” terangnya.

Kesenian kasidah membawa lagu berisi nasehat bagi umat Islam. Perkembangannya ada yang berusaha mempertahankan keasliannya dan dikolaborasikan dengan musik kontemporer. Hal ini bisa dilestarikan dan memompa semangat silaturahmi. Kata Mohan, keberadaan kelompok kasidah bukan sekadar hobi, tetapi ada ruang untuk saling tolong-menolong.

Mohan menegaskan, bentuk tanggungjawab dari kasidah adalah harus ada regenerasi yang memiliki perhatian pada kasidah. Saat ini, ada pergeseran seiring zaman musik tradisional tersebut. Musik tradisional dikalahkan oleh musik kontemporer yang banyak diminati oleh generasi muda. “Saya sepakat seperti yang disampaikan Ketua DPD Al Hidayah. Harus ada regenerasi melanjutkan musik kasidah ini,” demikian kata Mohan. (cem)