Lobar Fasilitasi Pasar Petani Garam Rakyat

Petani garam di Sekotong, Lobar, saat panen raya garam, baru-baru ini.(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Daerah pesisir menjadi salah satu kantong kemiskinan di kabupaten Lombok Barat (Lobar). Untuk menangani kantong kemiskinan ini, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) melakukan beberapa program. Salah satunya program pengembangan garam rakyat. Tidak saja membantu pengembangan, Dinas terkait juga memfasilitasi pasar bagi petani garam sehingga produknya dibeli oleh perusahaan dan pemda.

Kepala DKP Lobar, Lalu Sukawadi mengatakan begitu mengetahui kendala pembelian garam petani adalah terkait izin dari BPOM RI, pihaknya langsung bergerak untuk membantu agar garam produksi petani bisa mendapatkan izin BPOM. Sekarang, garam petani sudah mendapatkan izin BPOM.

Tidak sampai di situ, pihaknya kembali menjalin komunikasi dengan pihak Pemda dalam hal ini Bupati dan Sekda untuk mengusulkan lagi program pembelian garam oleh ASN. “Insya Allah bulan Januari 2021 sudah mulai didroping untuk ASN,” jelas dia. Di mana Sekda sudah mulai membuat edaran kepada semua OPD untuk membeli garam.

Untuk kerjasama PDAM, pihaknya sudah bertemu dengan Direktur Utama Perusda tersebut. Hasil pertemuan itu, pihak PDAM tetap mengambil garam petani untuk pengolahan air. “Tetap berlanjut kerjasama penyerapan garam petani di bawah binaan koperasi Bina Laut, PDAM akan tetap beli garam kita,” jelas dia. Hanya saja polanya saat ini perlu dilakukan proses pengadaan.

Namun sekian banyak pihak dari luar yang mengajukan ke PDAM, pihak PDAM tetap mengutamakan garam petani Lobar. Bahkan kedepannya ada peningkatan garam yang akan diserap PDAM. Sebelumnya per bulan 10-12 ton, namun kini meningkat menjadi 20-22 ton per bulan. Dan kemungkinan bisa bertambah lagi.

Pihaknya pun menyampaikan ke PDAM, bahwa areal produksi garam tidak hanya di Cendimanik saja, namun sudah ditambah ke daerah Bengkang, Desa Buwun Mas seluas 15 hektar sehingga menambah lagi produksi garam. Kalau ditotal, garam petani yang akan diserap oleh Pemda dan PDAM mencapai 29 ton tiap bulannya.

Sebelumnya, para petani garam banyak menanyakan ke dinas terkait keberlangsungan dari pembelian garam ini. Mereka khawatir akan menganggur kalau program ini tidak berlanjut. “Tapi kami sampaikan ke petani, Insya Allah tetap berlanjut,” ujar dia.

Saat ini stok garam di petani lumayan tinggi mencapai 1.500 karung yang siap dibeli oleh koperasi. “Sebab kalau tidak dibeli oleh koperasi, dikhawatirkan  petani resah karena dianggap terjadi kemacetan,” tukas dia. Ia menambahkan dari sisi kualitas, garam yang dihasilkan Lobar jauh lebih bagus. Apalagi dari sisi keamanan, sudah ada izin edar dari BPOM. “Sehingga tidak ada lagi keraguan konsumen,” katanya. (her)