Lobar Disorot Satgas Covid-19 Nasional

Wiku Adisasmito (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kabupaten Lombok Barat (Lobar) menjadi satu-satunya daerah di NTB yang masuk 54 kabupaten/kota di Indonesia yang belum mampu keluar dari zona oranye atau risiko sedang Covid-19 selama 10 bulan berturut-turut. Sementara itu, Pemprov NTB terus mendorong Pemda kabupaten/kota dapat keluar dari zona oranye dengan memenuhi 14 indikator yang menjadi penilaian dalam penentuan zonasi Covid-19 suatu daerah.

Satgas Covid-19 Nasional memantau perkembangan peta zonasi risiko pada pekan ini masih perlu menjadi perhatian. Karena zona oranye atau risiko sedang terus mengalami peningkatan jumlah daerahnya. Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Nasional, Prof. Wiku Adisasmito dalam keterangan tertulis yang diterima Suara NTB, Jumat (30/10) menyebut per 25 Oktober 2020, jumlah daerah zona oranye meningkat lebih dari dua kali lipat.

Iklan

Jumlah itu meningkat jika dibandingkan sejak pertama kali penetapan zonasi risiko daerah pada 31 Mei 2020, sebanyak 166 kabupaten/kota. Namun per 25 Oktober 2020, jumlah daerahnya bertambah mencapai 360 kabupaten/kota.

‘’Target kita bersama seluruh kabupaten/kota berada di zona kuning dan hijau. Kita tidak boleh merasa puas berada di zona oranye,’’ kata Wiku.

Ia menyoroti pada 54 kabupaten/kota yang selama 10 minggu berturut-turut berada dalam zona oranye. ‘’Ini yang kami sebut sebagai perasaan nyaman tidak berada di zona merah, tetapi berada di zona oranye dalam waktu lama. Satgas sangat menyayangkan kondisi seperti ini,’’ lanjutnya.

Kondisi itu perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap penanganan Covid-19 di wilayahnya masing-masing. Harusnya daerah-daerah yang tidak berubah kondisinya selama 10 minggu berturut-turut itu, belajar untuk meningkatkan penanganan Covid-19 di wilayahnya masing-masing. Ia menyebutkan satu per satu kabupaten/kota yang tidak berubah zonasi risikonya, termasuk satu kabupaten di NTB yaitu Lombok Barat (Lobar).

Yakni, Aceh Tengah, Asahan, Karo, Kota Pematang Siantar, Labuhan Batu, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Pakpak Bharat, Samosir, Serdang Bedagai, Simalungun, Toba Samosir,  Banyuasin, Kota Palembang, Kota Prabumulih, Kota Solok, Bintan, Bogor, Demak, Grobogan, Kota Magelang, Purworejo, Sragen, Blitar, Jember, Jombang, Pandeglang, Bantul, Yogyakarta, Kulonprogo, Lombok Barat, Bulungan, Paser, Kapuas, Katingan, Pulang Pisau, Kota Banjarbaru, Tanah Bumbu, Kota Bitung, Kota Kotamobagu, Minahasa Selatan, Gowa, Luwu Utara, Maros, Pangkajene dan Kepulauan, Sinjai, Buton, Buton Tengah, Kota Bau Bau, Mamuju, Gorontalo Utara, Halmahera Utara, Kota Ternate dan Keerom.

‘’Sepuluh minggu bukanlah waktu yang sebentar. Untuk itu kepada bupati dan walikota ini dibantu gubernurnya, untuk bisa memperbaiki kondisi di wilayahnya. Kami menunggu kepada 54 kabupaten/kota ini untuk bisa berpindah ke zona kuning,’’ pesan Wiku.

Selain itu, dari data peta zonasi risiko per 25 Oktober 2020, jumlah zona merah tercatat ada 20 kabupaten/kota, zona oranye 360 kabupaten/kota, zona kuning 115 kabupaten/kota dan zona hijau ada 19 kabupaten/kota.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A menjelaskan setiap minggu terus dilakukan evaluasi peta zonasi risiko Covid-19 di seluruh kabupaten/kota di NTB. Ia menyebutkan ada 14 indikator yang menjadi penilaian secara komprehensif untuk menilai suatu daerah masuk  zona merah, zona oranye, zona kuning dan zona hijau Covid-19.

Ia mengingatkan kabupaten/kota, jangan hanya melihat ada atau tidak adanya pasien yang masih positif. Kalau hanya melihat dari satu indikator saja, maka kontribusinya hanya seperempat dalam penentuan peta zona risiko. Untuk itu, 14 indikator yang ada harus menjadi perhatian.

‘’Kita tiap minggu hitung 14 indikator. Memang harus komprehensif, jangan hanya bicara ada tidak ada pasien, itu hanya seperempat nilainya,’’ kata Eka.

14 indikator yang digunakan dalam menghitung peta zonasi risiko antara lain, pertama, penurunan jumlah kasus positif dan probable pada minggu terakhir sebesar 50 persen dari puncak. Kedua, penurunan jumlah kasus suspek pada minggu terakhir sebesar 50 persen dari puncak.

Ketiga, penurunan jumlah meninggal kasus positif dan probable pada minggu terakhir sebesar 50 persen dari puncak. Keempat, penurunan jumlah meninggal kasus suspek pada minggu terakhir sebesar 50 persen.

Kelima, penurunan jumlah kasus positif dan probable yang dirawat di rumah sakit pada minggu terakhir sebesar 50 perseb dari puncak. Keenam, penurunan jumlah kasus suspek yang dirawat di rumah sakit pada minggu terakhir sebesar 50 persen dari puncak.

Ketujuh, persentase kumulatif kasus sembuh dari seluruh kasus positif dan probable. Kedelapan, laju insidensi kasus positif per 100.000 penduduk. Kesembilan, mortality rate kasus positif per 100.000 penduduk.

Ke 10, kecepatan laju insidensi per 100.000 penduduk. Ke 11, jumlah pemeriksaan sampel diagnosis meningkat selama dua minggu terakhir. Ke 12, positivity rate rendah, targetnya di bawah 5 persen sampel positif dari seluruh orang yang diperiksa.

Ke 13, jumlah tempat tidur di ruang isolasi RS Rujukan mampu menampung sampai dengan di atas 20 persen jumlah pasien positif Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Dan ke 14, jumlah tempat tidur di RS Rujukan mampu menampung sampai dengan di atas 20 persen jumlah ODP, PDP dan pasien positif Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. (nas)