Lobar Belum Cabut Penundaan Salat Jumat di Masjid

H. Baehaqi.(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Pemda Lombok Barat (Lobar) belum memenuhi Indikator Menuju Kenormalan baru yang dibuat oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Dari tiga indikator menuju new normal, satu indikator belum dipenuhi yakni kondisi epidemiologi masih zona kuning.

Sedangkan dua indikator sudah terpenuhi antara lain kemampuan daerah dalam covid-19 dan Indikator upaya Pemda melakukan trakcing kontak. Atas dasar inilah, Pemda saat ini pada masa transisi menuju new normal. Sehingga Pemda dan MUI belum mencabut penundaan pelaksanaan sholat Jumat berjamaah di masjid.

Iklan

Sekretaris Tim Percepatan Penanganan Covid-19 Lobaqr, Dr. H. Baehaqi mengatakan indikator yang belum dipenuhi adalah kondisi epidemiologi masih kuning. Seharusnya standar Kemendagri zona hijau. Sedangkan dua indikator Pemda dalam menangani Covid-19 sudah terpenuhi. Di mana indikator Kemendagri sedang, dan Lobar sudah mencapai tinggi. Artinya kata dia melalui target yang dipersyaratkan Kemendagri.

Hal ini menunjukkan bahwa semua komponen yang tergabung dalam satgas covid-19 Lobar telah bekerja keras sehingga capaian tinggi. Termasuk Toga, Toma dan semua tim yang terbagi dalam tim TRC dan Pencegahan. Indikator lain yang tercapai, dari segi upaya Pemda dalam mengusahakan trakcing kontak. Sesuai persyaratan Kemendagri sedang, pemda sendiri telah mencapai sedang. “Artinya sudah terpenuhi, tinggal zona (epidemiologi),” jelas dia.

Untuk menentukan zona, merah, kuning dan hijau itu ada indikatornya. Ada empat indicator, dari empat indikator tersebut akumulasi nilai yang diperoleh Lobar 85 poin. Nilai 80-90 masuk zona kuning. Sedangkan di atas itu hijau dan di bawah 80 merah.

Kenapa Lobar masih kuning, karena dari empat Indikator kasus jumlah penderita positif setidaknya selama 14 hari dalam kondisi mendatar. Sehingga skor berdasarkan penilaian itu 20 poin. Kalau kasusnya menurun maka skornya di atas itu.

  Masyarakat NTB Diimbau Tetap Gelar Shalat Jumat

Angka kasus positif fluktuatif, kadang naik, kadang turun. Bahkan tidak ada. Kemudian Indikator lainnya, jumlah OPD dan PDP selama setidaknya 14 hari juga masih datar. Di mana grafik dari OPD dan PDP naik, lalu turun drastis. Kemudian jumlah kematian dengan Protokol Covid-19 turun sehingga skornya 25. Lalu Indikator penularan langsung Covid-19 pada tenaga kesehatan mendatar sehingga nilainya 25.
Dikatakan, pemda membagi blue print menghadapai covid-19 menjadi dua, yakni ada tim TRC dan pencegahan. Dari dua tim ini, Pemda terus mempertajam pencegahan agar kasus jumlah penderita positif bisa ditekan menurun.

Sebab kalau sub Indikator ini bisa ditekan maka tiga sub Indikator bisa ditekan atau berkurang. “Karena otomatis orang mati berkurang, orang terjangkit juga berkurang dan penularan kurang,” imbuh dia. Karena itu pada masa transisi menuju new normal akan dipertajam dengan mencegah menangani titik hulu. Dimana mengedepankan sosialisasi, PHBS dan protokol covid-19.

Kaitan dengan itu juga, sarana prasarana kesehatan juga diperhatikan sehingga disiapkan semua pada masa transisi ini. Ia menambahkan, karena Lobar masih pada transisi menuju new normal maka Pemda pun belum mencabut terkait batas jam di tempat umum, dan WFH. Kalau sudah menuju new normal barulah semua pembatasan ini bisa dicabut. Hal ini kata dia akan dicabut ketika susah memenuhi semua Indikator Menuju Kenormalan baru. “Kami perlu laporkan juga ke pak gubernur cpaian Indikator ini,” imbuh dia. (her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here