Literasi Keuangan NTB Terendah Kedua di Indonesia

Mataram (Suara NTB) – Literasi keuangan atau tingkat pengetahuan masyarakat NTB tentang lembaga keuangan berada pada peringkat kedua terendah di Indonesia. Hal itulah yang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB, bersama industri keuangan di bawahnya, akan bergerak menyasar masyarakat pinggiran untuk sosialisasi tentang peran dan manfaat lembaga keuangan.

Iklan

Persoalan ini dikemukakan Kepala OJK Provinsi NTB, Farid Faletehan usai melakukan kegiatan inklusi keuangan, bersama Bank Indonesia dan salah satu perbankan nasional di SDN 1 Cakranegara Mataram, Jumat, 6 Oktober 2017 kemarin.

Pengetahuan masyarakat tentang lembaga keuangan ada di urutan kedua terendah secara nasional. Karena itu, Farid mengatakan otoritas terus melakukan literasi keuangan kepada masyarakat, agar inklusi keuangannya meningkat.

“Kita (NTB) masih 20 persen (literasi keungannya). Masih rendah sekali, makanya kita gencarkan edukasi. Ada produk kita namanya Simpel (Simpanan Pelajar) di Bank Indonesia namanya Tabunganku,” tambah Farid.

Didampingi Manajer Humas Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Ni Putu Sulastri, Farid menjelaskan salah satu penyebab rendahnya literasi keuangan masyarakat NTB, lebih dipengaruhi karena sebagian besar wilayah NTB lokasinya di pedesaan. Karena itulah, target otoritas, sosialisasi tentang industri keuangan akan dilakukan hingga ke pesantren-pesantren di kabupaten-kabupaten yang belum terjangkau.

Seperti yang dilakukan kemarin, kenapa sasarannya adalah anak-anak SD. Penting hal tersebut untuk mendasari pemahaman generasi muda Indonesia tentang lembaga keuangan, peran dan fungsinya. Hal ini juga dilakukan di tingkat, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.

Kegiatan inklusi keuangan dilakukan dalam rangka mendekatkan masyarakat dengan lembaga keuangan. Karena itu, OJK juga mendorong semua industri keuangan lainnya untuk bergerak bersama-sama menyasar masyarakat untuk memberikan pemahaman tentang lembaga keuangan, hingga di tingkat kecamatan-kecamatan.

“Ketika masyarakat sudah mengenal lembaga keuangan, kalau butuh uang tidak lagi mencari rentenir, tidak lagi mencari investor bodong, masyarakat akan ke bank. Kalau masyarakat punya uang, akan ditabung di bank, bukan justru menginvestasikan uangnya untuk kegiatan-kegiatan bodong,” imbuhnya.

Farid Faletehan memberikan gambaran tentang bagaimana Singapura, dengan literasi keuangan di atas 90 persen, masyarakatnya cukup sejahtera. Karena itu, Indonesia pada 2019 mendatang targetnya 75 persen masyarakat sudah mengenal lembaga keuangan.

Sementara itu, Ni Putu Sulatri menyebut yang dilakukan Bank Indonesia untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat, salah satunya dengan dilaksanakannya secara rutin Lomba Cerdas Cermat (LCC) kebanksentralan. Dengan meningkatkan literasi keuangan masyarakat, rasa cintanya terhadap rupiah akan semakin kuat. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional