Lintas NGO Suplai Pisang untuk Monyet Kawasan Wisata Pusuk

Lintas NGO membagikan pisang untuk gerombolan monyet yang banyak berkeliaran di jalur Pusuk. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Mobilitas masyarakat minim dan aktivitas penebangan kayu di titik pelebaran jalan provinsi di kawasan hutan lindung Pusuk, ditengarai menyebabkan suplai makanan untuk sekumpulan monyet berkurang. Kondisi itu lantas mendapat atensi sejumlah NGO. Antara lain, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI KLU), Yayasan Chili House, dan LSM Surak Agung. Sabtu, 4 September 2021, mereka menyuplai sekitar pisang untuk santapan para monyet.

Founder Chili House, Noor Ain Hussin, mengatakan suplai pisang untuk sekumpulan monyet merupakan bentuk keprihatinan kepada sesama makhluk hidup. Terlebih monyet, keberlangsungan habitatnya bergantung pada ekosistem alam.

Iklan

“Sekarang ini sedang dimulai pelebaran jalan, dan sebelumnya dimulai dengan penebangan pohon. Situasi ini berimbas pada keberlangsungan monyet untuk bertahan hidup,” ujar Noor.

Sebagaimana diketahui, kawasan hutan lindung Pusuk sudah lama menjadi lingkungan tinggal para monyet. Volume pepohonan diyakini berkurang jauh sebelum proyek pelebaran jalan dimulai. Berkurangnya pohon, menyebabkan sumber makanan menipis. Sehingga tidak jarang, monyet berkeliaran di sepanjang jalan Pusuk. Entah untuk “ngabuburit”, atau bahkan menunggu uluran makanan dari pengendara.

Monyet-monyet ini tidak galak. Dan menjadi daya tarik wisatawan. Kami mengajak semua pihak untuk tetap menjaga kelestarian alam hutan Pusuk. Harapan kami, setelah pelebaran jalan, Pemprov mulai reboisasi dengan pepohonan yang menghasilkan air dan makanan bagi ribuan monyet di sini,” tutupnya.

Sementara, Ketua HIPMI KLU, Rama Kuswandaru, menyatakan dirinya sependapat agar ajakan Chili House memelihara ekosistem alam di kawasan hutan Pusuk mendapat atensi semua pihak, termasuk pemerintah. Tentunya, upaya penghijauan kembali kawasan Pusuk dilakukan secara massif oleh pemerintah.

“Keberadaan monyet juga aset dan menjadi daya tarik wisata bagi pengunjung yang datang ke KLU. Potensi wisata ini harus kita pelihara,” katanya.

Rama mengaku, ia langsung merespon manakala muncul ajakan lintas NGO untuk menyuplai pisang bagi gerombolan monyet Pusuk. Sebab baginya, alam tidak hanya tumbuhan dan manusia. Tetapi juga hewan yang bertindak selaku subjek pada rantai makanan. “Kalau alam terjaga, maka alam juga akan menjaga kita. Rantai makanan tidak putus, berarti kehidupan di alam ini akan berjalan seimbang,” ujarnya.

Sementara, Ketua LSM Surak Agung, Wira Maya Arnadi, menyampaikan apresiasi atas dukungan semua pihak yang terlibat pada misi lingkungan kali ini. Pada kesempatan kemarin, sebanyak 4.000 biji pisang terkumpul dari berbagai sumber. Ada dari HIPMI, Chili House dan juga anggota Surak Agung.

“Melihat monyet berebut pisang, seakan memberi sinyal bahwa makanan untuk mereka menipis akibat ulah manusia. Ini harus kita renungkan bersama, agar pembangunan ke depan, melibatkan pembangunan alam dan lingkungan. Tidak hanya sarana dan prasarana,” pungkasnya. (ari)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional