Lingkungan Tercemar, Petani Rumput Laut Minta Pemda KSB Ambil Sikap

Taliwang (Suara NTB) – Para petani rumput di desa Kertasari, Kecamatan Taliwang, meminta pemerintah segera mengambil sikap terkait dugaan pencemaran lingkungan yang ada saat ini. Baik itu yang diakibatkan oleh merkuri maupun limbah air dari tambak udang.

Hal ini sangat dikhawatirkan oleh para petani. Pasalnya, tingkat pencemarannya yang cukup tinggi, membuat keberadaan rumput laut sebagai mata pencaharian juga akan terganggu dan berkurang.

Iklan

“Jujur, kami sangat terganggu dengan pencemaran lingkungan yang ada saat ini. Karena imbasnya ke kami sebagai petani rumput laut yang semakin rugi jika produksinya terus menurun setiap tahunnya. Bahkan kondisinya saat ini, sudah semakin parah, karena warga masyarakat sudah mulai merasakan gatal ketika berada di laut,” ujar Saidi kepada Media ini, Kamis, 29 Maret 2018.

Dikatakannya, terkait masalah ini para petani sudah menyuarakan ke dinas terkait (Perikanan dan Kelautan) untuk bisa mengambil sikap. Tetapi faktanya, hingga saat ini belum ada kejelasan, sehingga pihaknya sangat khawatir jika masalah ini terus dibiarkan, maka potensi rumput laut yang menjanjikan tidak bisa berkembang.

Salah satu contoh kecil saja, setiap kali ada panen udang, pasti imbasnya rumput laut akan rusak, jika pencemaran semakin masif maka tidak akan ada lagi rumput laut di desa Kertasari. Belum lagi dengan adanya penangkapan ikan menggunakan potasium dan bomjuga berpengaruh signifikan terhadap kondisi rumput laut.

“Faktor- faktor tersebut harus segera disikapi oleh Pemerintah, jika tidak, kami bisa gulung tikar dan perekonomian warga Kertasari akan mati total,” ungkapnya.

Kepala Desa Kertasari, Burhanuddin, SH tidak menampik masalah ini yang terus menghantui petani rumput laut di desa Kertasari. Terhadap masalah ini, pihak terkait akan kembali menyuarakan ke Pemerintah untuk segera mengambil sikap terkait masalah tersebut. Karena yang paling dikhawatirkan, jika rumput laut ini tidak menghasilkan lagi ada di Kertasari karena pencemaran, mata pencaharian utama tidak akan ada lagi.

Jika sudah tidak ada mata pencaharian maka kondisi kemiskinan di wilayah ini akan semakin parah, karena sangat tidak mungkin bisa bertahan hidup dari hasil nelayan saja karena hasilnya jauh lebih rendah dari bertani rumput laut. “Kami tetap akan upayakan masalah ini ada solusinya dan kami juga akan bicara dengan Pemerintah untuk bisa mengambil sikap terkait pencemaran lingkungan ini,” tandasnya. (ils)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here