Lingkungan SMPN 23 Mataram Memprihatinkan

Plt. Kepala SMPN 23 Mataram menunjukkan area sekolah yang terendam air hingga ditumbuhi rumput liar. (insert) genangan air di pintu masuk dan halaman sekolah.(Suara NTB/bay)

Kondisi memprihatinkan tampak di lingkungan SMPN 23 Mataram. Meskipun berada tepat di jantung Kota Mataram, sebagian besar lahan sekolah yang terletak di Kelurahan Monjok Kecamatan Selaparang tersebut merupakan tanah rawa.

AREA gedung sekolah yang terletak di Jalan Gedur Raya tersebut hampir tidak tampak dari jalan. Tersembunyi di balik rumput gajah yang tersebar di halamannya. Akibat hujan deras yang terjadi beberapa hari terakhir, kondisi tersebut diperparah dengan terendamnya sebagian besar area sekolah.

Iklan

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah SMPN 23 Mataram, Amirudin, menerangkan kondisi tersebut sudah sejak lama dialami sekolahnya. Pasalnya, saluran drainase yang buruk membuat air sulit mengalir. “Kita tentu berharap sekolah ini bisa maju. Bagaimana supaya bisa punya taman dan halaman untuk tempat upacara dan olahraga seperti sekolah-sekolah yang lainnya,” ujarnya saat ditemui Suara NTB, Senin, 1 Maret 2021.

SMPN 23 Mataram merupakan salah satu sekolah dengan jumlah siswa sangat sedikit di Kota Mataram. Dengan total siswa hanya 154 orang yang terbagi 34 orang di Kelas VII, 87 orang di Kelas VIII, dan 33 orang di kelas IX.

Dengan jumlah siswa yang sedikit tersebut mempengaruhi juga dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang diterima SMPN 23 Mataram. Diterangkan Amirudin, per tahun sekolahnya hanya menerima bantuan sebesar Rp173 juta lebih yang pencairannya dibagi dalam tiga termin.

“Jadi setiap pencairan itu kira-kira kita hanya ada dana Rp57 juta lebih. Itu hanya cukup untuk operasional saja seperti bayar honorer dan lain-lain,” jelasnya. Dari dana BOS itu juga, pihaknya mempekerjakan satu orang tukang kebun yang bertugas membersihkan seluruh area sekolah yang mencapai 1 hektare lebih tersebut.

“Kita ingin tambah tukang kebun, tapi dananya yang tidak ada. Karena jumlah siswa kita memang sedikit setiap tahunnya. Kalah saing sama sekolah-sekolah lain yang ada di Kelurahan Monjok yang jauh lebih bagus,” sambungnya.

Berdasarkan pantauan Suara NTB, hampir sebagian besar fasilitas sekolah di SMPN 23 Mataram tidak dapat digunakan. Baik area lapangan upacara maupun lapangan olahraga terendam air dan dipenuhi lumpur. Selain itu, musala di area sekolah juga terdampak gempa 2018 lalu. Dengan jumlah ruangan yang terbatas, pihak sekolah memanfaatkan ruang kelas sebagai ruang guru, perpustakaan, laboratorium, UKS, dan lain-lain.

Menghadapi kondisi tersebut, Amirudin mengharapkan adanya bantuan dari Pemkot Mataram. “Mungkin pejabat-pejabat di pemerintahan atau di Dewan bisa membantu kami untuk tanah urug. Kami tidak minta uang, kami hanya minta tanah urug supaya permukaan tanah di sekolah ini bisa rata,” jelasnya.

Permintaan tersebut sebelumnya telah diteruskannya ke Dinas Pendidikan Kota Mataram dan beberapa anggota DPRD dengan daerah pemilihan di Kelurahan Monjok. Namun permintaan itu diakui Amirudin menemui jalan buntu.

“Belum ada respon dari mana-mana sampai sekarang. Padahal kami ingin juga punya lingkungan yang aman, nyaman, dan tidak ditinggalkan masyarakat. Karena notabene sekolah ini sebenarnya ada di tengah-tengah Kota Mataram,” ungkapnya.

Kondisi di SMPN 23 Mataram telah berlangsung lama, bahkan sejak dirinya belum menjabat Plt. Kepala Sekolah di fasilitas pendidikan tersebut. Dengan kondisi saat ini, Amirudin mengakui banyak orangtua siswa yang batal mendaftarkan anaknya untuk bersekolah di SMPN 23 Mataram.

“Jumlah siswanya setiap tahun memang berkurang, tapi kita juga mengerti. Dengan kondisi seperti ini kita hanya punya sedikit fasilitas,” ujarnya.  Untuk itu, sejak Februari 2021 pihaknya mejalin kerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Mataram untuk mendatangkan urugan tanah guna menimbun genangan air permanen di area sekolah. Kendati demikian, proses perataan tanah diakuinya akan cukup sulit jika tanpa alat berat.

“Sebenarnya Dinas Pendidikan juga sudah tahu dan memahami kondisi ini, tapi keadaannya sampai sekarang tetap dibiarkan seperti ini. Ini yang membuat kita sangat prihatin. Kita berharap ada terobosan (pemerintah) untuk membantu sekolah ini lebih maju,” tandas Amirudin. (bay)

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional