Lima Hal Menarik Tentang Nyale

Mataram (suarantb.com) – Pesona Putri Mandalika telah mendarah daging dalam masyarakat Lombok. Hingga nyale, hewan yang diyakini sebagai jelmaan sang putri cantik jelita sangat digandrungi masyarakat Sasak. Sejak tanggal 15-17 Februari 2017, selama berlangsungnya Festival Bau Nyale, puluhan ribu masyarakat terjun berburu nyale.

Berikut lima hal menarik terkait nyale yang legendaris ini:

Iklan
  1. Jelmaan Putri Mandalika

Keberadaan nyale memang diyakini berawal dari legenda Putri Mandalika. Putri Mandalika yang dipersunting banyak pangeran, tidak bisa memutuskan pilihan. Ia akhirnya memilih untuk menceburkan diri ke laut.

“Menurut cerita, masyarakat yang melihat Putri Mandalika terjun ke laut akhirnya turun mencari juga. Namun ternyata yang ditemukan nyale-nyale ini. Jadinya nyale ini yang diyakini sebagai jelmaan Putri Mandalika,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lombok Tengah, H. Lalu Putria.

  1. Asal Nama Nyale

Nama nyale sendiri diambil dari kosakata bahasa Sasak ‘nyale’ yang berarti menyala. Nama ini digunakan karena cacing yang ditemukan masyarakat berwarna-warni. Mulai dari warna hijau, biru, kuning dan sebagainya.

  1. Khasiat dan Olahan Nyale

Selain kaitannya dengan Putri Mandalika, nyale banyak diburu karena diyakini berkhasiat. Salah satunya, menurut Putria nyale bisa dijadikan obat untuk anak-anak.

“Itu dijadikan sembek biar anaknya jadi pinter, cantik biar bisa mengikuti sifat-sifat luhur dari Putri Mandalika,” katanya. Olahan nyale juga cukup disukai sebagian orang, biasanya dinikmati dengan cara dibuat pepes dan banyak dijual di pasar saat musim Bau Nyale tiba.

  1. Peran Penyamo (Pemangku Bau Nyale) dalam Festival Bau Nyale

Penyamo ini bertugas menentukan tanggal 20 bulan 10 kalender Sasak puncak perayaan Bau Nyale. Kemudian nantinya memberi tahu kepada  masyarakat bahwa akan datang nyale. Penyamo yang berasal dari empat penjuru ini rapat bersama menggunakan pendekatan ilmu perbintangan, ilmu maritim dan ilmu angin yang dipadukan.

Tanda-tanda kedatangan nyale juga ditandai dengan tanda-tanda alam seperti terdengarnya tengkerek, bunyi gemuruh dan adanya hujan angin yang disertai dengan petir. “Setiap pelaksanaan Bau Nyale pasti kita ada penyamo namanya. Penyamo itu memberi tahu kepada masyarakat bahwa akan datang nyale. Kemudian menurut kebiasaan besok pagi akan banyak peneternya besok, akan lebih banyak nyalenya,” jelas Putria.

  1. Umpatan untuk Panggil Nyale

Salah satu tradisi unik dalam prosesi perburuan nyale adalah tradisi nyumpak atau mengeluarkan umpatan atau kata-kata kasar. Masyarakat meyakini dengan mengucapkan kata-kata kasar nyale yang muncul semakin banyak. Namun, tradisi ini memang sedikit membuat telinga memanas bagi sebagian orang.

“Itu tergantung personalnya masing-masing. Tapi seharusnya tidak pantas mengucapkan kata kasar seperti itu. Karena itu kan tidak ada pengaruhnya nyale ada atau tidak,” katanya.

Itulah beberapa fakta tentang nyale, yang sangat legendaris dan berhasil menarik ribuan wisatawan ke Lombok. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here