Lima Desa di Lotim Mulai Krisis Air Bersih

Selong (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mulai mendistribusikan air bersih terhadap sejumlah desa di Lotim. Pasalnya, saat ini terdapat lima desa di Lotim yang sudah mengalami krisis air bersih, yakni Desa Batu Nampar Selatan, Desa Sunut, Desa Ujung Ketangga dan Desa Sekaroh untuk di Kecamatan Jerowaru. Sementara satu desa lagi di Kecamatan Suela yakni Desa Suntalangu.

Kepada Suara NTB, Kepala Bidang Kedaruratan dan Urusan Logistik pada BPBD Lotim, Lalu Rusnan, menyebutkan lima desa itu yang sudah melayangkan surat permintaan untuk dilakukan droping air bersih. Sehingga dari permintaan itu pihak BPBD langsung menindaklanjuti dengan dilakukan tindakan droping air bersih sesuai dengan kebutuhan.

Iklan

Selasa, 22 Mei  lalu, BPBD Lotim mendistribusikan air bersih ke Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru. Distribusi itu dilakukan berdasarkan permohonan Kepala Desa Sekaroh ke BPBD Lotim. Di sana, kata Lalu Rusnan, diturunkan sebanyak dua armada tangki air bersih, pendistribusian dilakukan di Dusun Telone dan Dusun Sekaroh Desa Sekaroh masing-masing 1 tangki.

Pendistribusi di Desa Sekaroh, dilanjutkan dilakukan pada Rabu kemarin, mengingat masih adanya desa yang belum terpenuhi air bersih yakni di Dusun Ujung Ketangga Desa Sekaroh. “Jadi pemerintah desa yang bersurat untuk dilakukan pendistribusian air bersih, langsung kita sikapi, sehingga kebutuhan mereka akan air bersih dapat terpenuhi langsung,”ujarnya.

Dijelaskannya setiap tahun masyarakat di Kabupaten Lotim terutama di wilayah-wilayah tertentu secara rutin mengalami krisis air bersih. Untuk itu, pihak dari BPBD Lotim sudah siap siaga untuk mengantisipasi hal demikian dan bergerak apabila ada permintaan dari masyarakat. BPBD Lotim tetap menunggu daerah-daerah lain yang melayangkan permintaan.

Menurutnya, untuk pendropan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan, harus menunggu permintaan mulai dari jumlah yang didistribusikan karena dalam surat permintaan akan dilihat kebutuhannya.

Adapun untuk wilayah yang terdampak kekeringan selama tiga tahun terakhir yakni mulai dari tahun 2016 bahwa jumlah kecamatan yang terdampak kekeringan sebanyak 12 kecamatan, kemudian tahun 2017 menjadi 9 kecamatan dan pada akhir tahun 2017 memasuki 2018 terus berkurang menjadi 7 kecamatan.

Terus berkurangnya wilayah terdampak kekernngan, karena pemerintah sudah membangun bak penampung terhadap titik-titik yang menjadi sumber mata air, kemudian dialirkan menggunakan pipanisasi ke pemukiman penduduk. Sehingga di wilayah itu tidak lagi didropkan air bersih.

Selanjutnya, yang menjadi lokasi keberadaan air bawah tanah dengan melibatkan dinas terkait dengan melakukan survei geoslistrik, maka dibangunkan sumur bor.

Adapun 7 kecamatan yang masih terdampak mengalami kekeringan di tahun 2018, yakni Kecamatan Jerowaru, Keruak, Sakra Barat, Sakra, Pringgabaya, Terara dan Masbagik sebagian. Untuk musim kemarau diprediksi hingga bulan November 2018. (yon)