Libur Panjang, Okupansi Hotel di Mataram Stagnan

Salah satu hotel di Jalan Langko, Mataram. Selama libur panjang Natal, okupansi hotel di dalam kota terbilang stagnan pada persentase 40-50 persen. Berbeda dengan hotel dan resort di daerah wisata dengan okupansi mencapai 80 persen. (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) -Libur panjang Natal yang dimulai sejak 24-27 Desember lalu memberi dampak positif pada usaha hotel di NTB. Kendati demikian, hal tersebut tidak berlaku untuk usaha hotel yang ada di Kota Mataram.

Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), Yono Sulistyo, menerangkan kondisi hotel di Mataram selama libur Natal 2020 memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan hotel dan resort seperti di Lombok Barat, Lombok Utara, dan Lombok Timur. Di mana sasaran pasar yang berbeda membuat okupansi hotel di Mataram sulit mengalami peningkatan selama libur panjang.
Misalnya kita lihat di Senggigi dampak dari libur panjang kemarin mobil parkir sampai luar biasa, tapi di Kota Mataram ini segmen pasarnya memang beda. Untuk libur natal dan tahun baru itu segmennya adalah leisure. Makanya wisatawan condongnya ke Senggigi, Mandalika, atau Gili Trawangan. Bukan ke Mataram, ujar Yono saat dikonfirmasi, Minggu, 27 Desember 2020.

Diterangkan, untuk okupansi di Kota Mataram selama libur panjang rata-rata hanya mencapai 40-50 persen. Berbeda dengan hotel dan resort di kawasan leisure yang dapat mencapai 80 persen selama libur. Kita market-nya memang untuk pelaku perjalanan bisnis dan MICE. Jadi kita cukup sepi selama libur ini, jelasnya.

Diterangkan, fasilitas yang terbatas di tengah kota untuk pasar leisure memang menjadi kendala utama. Meskipun hal tersebut bisa diatasi oleh hotel-hotel besar berbintang empat yang memiliki fasilitas lebih lengkap. Tapi rata-rata sama saja, karena cukup susah untuk hotel di kota menarik pangsa pasar orang berlibur. Kalau untuk hotel-hotel yang fasilitasnya lumayan lengkap kita belum dapat update, ujar Yono.

Di sisi lain, peraturan terbaru dari pemerintah yang mewajibkan adanya rapid test antigen bagi pelaku perjalanan diakui memberi dampak pada tingkat huniah hotel di Kota Mataram. Terlebih aturan tersebut diberlakukan di beberapa daerah yang menjadi pasar utama seperti Jakarta dan lain-lain.
Kalau yang membatalkan memang tidak ada, tapi animo yang sekarang beda dengan waktu normal dulu. Reservasi itu banyak masuk, tapi okupansi kita naik lambat sekali. Jadi (aturan rapid test antigen) ini berpengaruh sekali, jelasnya.

Untuk itu, pasar lokal dinilai menjadi andalan satu-satunya untuk tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini. Dicontohkan seperti hotel dan resort di kawasan Senggigi yang juga dipadati justru oleh wisatawan dalam daerah.

Kalau kita pantau yang di Senggigi itu ramai dengan domestik, karena sebagian besar mobil yang parkir plat-nya DR. Berarti market kita memang masyarakat kita sendiri, bukan orang dari luar daerah. Ini yang cukup sulit juga bagi kita yang di (dalam) kota, tandas Yono. (bay)