Libur Nataru, Sekolah Dipastikan Tetap Masuk

H. Aidy Furqan (Suara NTB/kir)

Mataram (Suara NTB) – Sekolah di NTB dipastikan tidak meliburkan siswa di masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) pada tanggal 24 Desember 2021 sampai dengan 2 Januari 2022. Hal ini sesuai surat edaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi  (Kemendikbudristek) tentang penyelenggaraan pembelajaran menjelang libur Nataru dalam rangka pencegahan dan pengendalian Covid-19.

Keputusan itu diambil berdasarkan rapat antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB dengan seluruh Kepala Dinas Pendidikan di kabupaten/kota di NTB, Kanwil Kemenag NTB, dan LPMP NTB, pada Kamis, 2 Desember 2021 di aula kantor Dinas Dikbud NTB. Rapat dipimpin oleh Kepala Dinas Dikbud NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd.

Iklan

Dalam rapat tersebut disepakati beberapa ketentuan dan akan ditindaklanjuti melalui surat edaran gubernur. Disepakati pembagian rapor yang sebelumnya dijadwalkan tanggal 17-18 Desember 2021 diubah menjadi tanggal 8 Januari 2021.

Masa libur Nataru yang masuk dalam libur semester ganjil dalam kalender pendidikan dipastikan tidak menjadi libur khusus. Hal ini sesuai edaran Kemendikbudristek yang meminta pemerintah daerah tidak meliburkan secara khusus kegiatan pendidikan di satuan pendidikan selama libur Nataru.

Libur semester ganjil diundur tanggal 10 Januari sampai dengan 22 Januari 2021. Sementara mulai pembelajaran semester genap dimajukan menjadi tanggal 13 Desember 2021 sampai dengan 7 Januari 2021. Masuk kembali tanggal 24 Januari 2021.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H. Lalu Fatwir Uzali, M.Pd., mengatakan, pihaknya mengikuti surat edaran Kemendikbudristek yang meminta sekolah tidak diliburkan saat PPKM level 3.

“Tetap belajar, dan teknisnya nanti akan ada SOP yang diedarkan ke sekolah. Kami di Dinas Pendidikan akan menyosialisasikan setelah ada SOP bersama. Kami akan sama-sama memantau kegiatan sekolah,” ujarnya.

Fatwir juga mengatakan, pihaknya akan melaporkan kepada Walikota Mataram. Nantinya akan menjadi acuan dari TK, SD, dan SMP. “Supaya tidak ada kegaduhan di NTB,” ujarnya. (ron)

Advertisement