Libur Lebaran, Kunjungan Objek Wisata di Lotim Dipastikan Membeludak

Objek wisata Joben Pesanggrahan yang diprediksi akan banyak dikunjungi warga usai Lebaran. Tampak wisatawan lokal saat berkunjung ke Joben Pesanggrahan beberapa waktu lalu. (Suara NTB/dok)

Selong (Suara NTB) – Kunjungan ke sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) selama musim lebaran dipastikan membeludak. Menyikapi hal itu, Dinas Pariwisata Lotim sudah melakukan pembagian tugas pemantauan di sejumlah destinasi wisata.

Menurut Kepala Bidang Destinasi, Syamsul Hakim kepada Suara NTB, Rabu, 29 Mei 2019, beberapa objek wisata yang diyakini menjadi destinasi andalan di Lotim adalah Joben Pesanggrahan. Joben sebutnya banyak peminat. Mulai H+1 idul fitri sudah banyak pengunjung.

Iklan

Destinasi wisata Labuhan Haji, sambutnya menjadi lokasi yang tidak kalah ramainya saat libur lebaran. Labuhan Haji ada Pantai Labuhan Haji, Sepolong dan Pantai Suryawangi. Dalam pemantauan arus kunjungan, dilibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa setempat.

Selain itu ada Lemor yang juga diyakini akan banyak sekali pengunjung. Khusus Lemor ini kini sudah dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Lotim bersamaan dengan Kebun Raya Lemor (KRL) yang juga merupakan tempat yang tidak akan sepi oleh pengunjung.

Selanjutnya kawasan Sembalun yang melewati Pusuk. Wilayah Pusuk ini disebut selalu penuh setiap tahun oleh kunjungan wisata. Pusuk menjadi wilayah kewenangan provinsi soal pengelolaannya. Agar bisa lebih maksimal, Dispar Lotim ini sudah melayangkan surat ke gubernur agar bisa diberikan hak mengelola.

Menurutnya, saat ini objek wisata Pusuk ini dalam kondisi kurang terawat. Sampah banyak berserakan di mana-mana. “Bilahari kita sudah bergotong royong disana membersihkan sampah,” tuturnya.
Status pengelolaan belum jelas, membuat Dispar Lotim tidak bisa dipantau oleh Lotim. Karenanya, untuk antisipasi pungutan liar dan premanisme dan lainnya di objek wisata yang dikelola provinsi ini tidak bisa dilakukan oleh Pemkab Lotim.

Khusus Sembalun, diakui akibat gempa beruntun sejak 29 Juni 2018 lalu fasilitas wisata belum bisa disentuh perbaikan. Objek wisata belum bisa maksimal, seperti di Bale Beleq Sembalun, sehingga para pengunjung di Sembalun akan banyak berkumpul di Pusuk Sembalun dan gerbang Sembalun serta bukit-bukit Sembalun.

Pascagempa ini, sambungnya memang belum banyak objek wisata yang sudah siap menerima kunjungan wisatawan. Kasus Bale Beleq Sembalun itu belum sama sekali disentuh. Rencananya akan dianggarkan perbaikannya di APBD perubahan.
‘’Dari pusat tidak bisa diusulkan oleh Dispar. Pasalnya, DAK sudah terkunci angagrannya. Sudah pula diusulkan lewat DAK tahun 2020 akan tetapi menunya tidak ada. Bale Beleq ini cenderung ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud). Mungkin kalau Dikbud yang mengusulkan ke pusat bisa jadi,” ucapnya. (rus)