LIA Belum Normal, 31 Penerbangan Dibatalkan

Praya (Suara NTB) – Kondisi penerbangan di Lombok International Airport (LIA) hingga saat ini belum sepenuhnya berjalan normal. Kendati pihak oritas bandara sudah menyatakan bandara siap operasi. Pembatalan penerbangan oleh sejumlah maskapai masih terus berlanjut sampai Selasa, 28 November 2017 kemarin.

Data yang diperoleh Suara NTB di Media Center LIA menyebutkan, total ada 31 penerbangan yang dibatalkan. Dari total 106 flight (penerbangan) yang masuk dalam jadwal dari semua maskapai. “Yang paling banyak flight Lombok-Denpasar. Karena memang Bandara Ngurah Rai Bali, ditutup,’’ jelas  General Manager (GM) PT. AP I LIA, I Gusti Ngurah Ardita, Selasa malam kemarin.

Iklan

Sementara penerbangan dari luar Bali, sudah masuk ke LIA. Seperti misalnya Batik Air  yang mengangkut penumpang dari Surabaya dan juga Citilink.

Pada prinsipnya pihaknya sudah membuka bandara dan siap untuk aktivitas penerbangan. Tapi kembali lagi, semua keputusan untuk terbang atau tidak itu kewenangan pihak maskapai. Pihaknya pun belum bisa memastikan, kapan penerbangan akan kembali normal.

Karena itu semua tergantung dari perkembangan aktivitas Gunung Agung, Karangasem, Bali. Selama aktivitas erupsi Gunung Agung masih berlangsung, maka kondisi penerbangan di LIA masih belum bisa dipastikan normal. “Tapi secara umum kondisi operasional LIA sudah membaik,” jelasnya.

Pasalnya pada hari pertama penutupan LIA pada Minggu, 26 November 2017, total ada 51 penerbangan yang dibatalkan. Jumlah tersebut berkurang menjadi 47 penerbangan pada penutupan hari kedua, Senin, 27 November 2017.

Ia menjelaskan, dari hasil rapat koordinasi dengan pihak terkait LIA sampai sejauh ini masih dikatakan aman dari dampak erupsi Gunung Agung. Di jalur-jalur penerbangan pun tidak ditemukan adanya sebaran abu vulkanik. Begitu pula di area bandara juga tidak ditemukan sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Agung.

“Untuk mengecek sebaran abu vulkanik, setiap jam kita lakukan paper test. Dengan menyebar kertas di sejumlah titik. Hasilnya dinyatakan negatif,” tandasnya. Atas pertimbangan tersebut, operasional LIA pada Selasa tetap dibuka sampai penerbangan terakhir.

Disediakan Alternatif Jalur Darat

LIA, kemarin  menerapkan sistem buka tutup mengantisipasi dampak erupsi Gunung Agung. Sejumlah maskapai membatalkan penerbangannya pada Selasa, 28 November 2017 meski operasional LIA sudah dibuka sejak pukul 06.00 Wita.

“Untuk Lombok pagi sampai siang aman. Sebaran debu vulkanik ke arah barat. justru (bandara) Bali yang masih tutup diperpanjang sampai 24 jam,” ujarnya saat mendampingi Kapolda NTB, Brigjen Pol Firli memantau keamanan bandara.

Ardita menguraikan, pihaknya menggunakan tiga instrumen untuk menentukan operasional bandara yang ditunjukkan lewat Notice to Airmen (NOTAM).

Yakni, pengamatan citra satelit, analisis satelit Himawari, dan pengamatan visual bandara, serta koordinasi dengan otoritas Bandara Ngurah Rai Denpasar, Bali.

Untuk jadwal penerbangan Selasa, 28 November 2017,  penerbangan domestik dan internasionala ada yang dibatalkan. Penerbangan tujuan Denpasar lumpuh total. Pihak bandara LIA kemudian menyediakan alternatif berdasarkan kebijakan masing-masing maskapai.

”Kita sediakan bus. Jadi ada 106 penumpang yang menggunakan Bus Damri yang kita sediakan menuju Surabaya lewat jalur darat. Pertimbangannya karena ada yang tertahan sampai dua hari di sini. Ada sekitar 42 orang yang kita antar ke hotel-hotel,” kata Ardita.

Dia menjelaskan, hal itu merupakan pilihan para calon penumpang. Sementara pihak bandara bekerjasama dengan maskapai hanya memberi alternatif solusi.

Salah satu calon penumpang Lion Air tujuan Jakarta, Sandra (55) cukup kesulitan sejak gagal berangkat Senin (27/11) petang.  “Kalau mau ganti jadwal, harus menginap lagi. Lagipula kursinya sudah penuh. Hari ini dapat yang sore mudahan dapat berangkat,” ujarnya yang ke Lombok akhir pekan lalu menghadiri pernikahan salah satu anggota keluarga besarnya.

Nasib yang sama dialami Arina (50) warga Kabupaten Bima yang hendak berangkat umrah ke tanah suci Makkah. Dia harus rela menunggu di bandara lebih lama sebab pesawat yang akan ditumpanginya mengalami penundaan.

Selain itu, dia bersama harus pindah tujuan bandara. “Hari ini tidak ada penerbangan ke Jakarta. Jadi kita pilih lewat Surabaya dulu,” ungkapnya. (kir/why)