Letusan Barujari, Pariwisata Senaru Lumpuh

Tanjung (Suara NTB) – Satu hari pascaletusan vulkanik Gunung Barujari, sangat berdampak pada sektor pariwisata di Desa Senaru dan sekitarnya. Sebagai pintu masuk menuju Taman Nasional Gunung Rinjani, Senaru mulai sepi pengunjung akibat akses ke objek wisata ditutup.

“Sudah pasti lumpuh, ketika akses ke TNGR harus ditutup. Banyak tamu yang sudah deal, tetapi kemudian ditunda hingga dibatalkan. Akibatnya pelaju wisata merugi,” ungkap Ketua Forum Citra Wisata Rinjani, I Made Jaya, Rabu, 28 September 2016.

Iklan

Diakuinya, keberadaan Gunung Rinjani berdampak besar bagi pelaku pariwisata Senaru dan Bayan pada umumnya. Kondisi ini menjadi semakin sulit setelah BNPB menaikkan status Letusan Gunung Rinjani dari Normal menjadi Waspada. Status itu tak ayal membuat pengusaha tracker, penginapan di Senaru harus menutup usahanya untuk sementara waktu.

Selain pemilik penginapan, masyarakat yang berperan sebagai guide dan porter juga harus kehilangan mata pencahariannya. Mereka tak bisa lagi mendampingi wisatawan ke puncak Rinjani. Padahal kata dia, dari jasa wisata tracker untuk paket 2 orang dikenakan biaya paling tinggi Rp 4 juta. Jika pengunjung yang gagal naik 50 orang per hari, maka nilai kerugian pelaku pariwisata dan masyarakat cukup besar.

“Para tamu yang tiba sejak hari pertama letusan langsung balik ke Senggigi, Bali atau memilih destinasi wisata lain di luar daerah.

Hal tersebut juga berlaku bagi pengunjung TNGR yang telah dievakuasi. Dalam hal ini, mereka dipastikan tidak akan bermalam di Senatu melainkan kembali ke daerahnya atau memilih lokasi wisata lain.

“Informasi dari para guide, seluruh pengunjung sudah dievakuasi. Tapi, saya tidak tahu dengan penduduk yang ada di atas sana. Harapan kita, Balai TNGR segera menetapkan radius yang dianggap aman dan berbahaya sehingga warga yang dekat dengan Rinjani bisa dievakuasi,” imbuhnya.

Di Sembalun, Lombok Timur, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR)  langsung menutup sementara semua rute pendakian. Namun, pasca meletusnya Gunung Baru Jari tercatat sebanyak 380 pendaki masih berada di kawasan Gunung Rinjani pertanggal 25 September hingga satu hari sebelum terjadinya letusan.

Kepala Resor Sembalun Balai TNGR, Zainudin pada Suara NTB, Rabu (28/9), menjelaskan, alasan ditutupnya pendakian itu, disebabkan status dari Gunung Baru Jari masih berstatus waspada. Untuk pembukaannya nanti belum diketahui secara pasti, karena pihaknya tetap menunggu instruksi dari pusat.

Sementara, dari pantauan dan pengamatan hingga Rabu kemarin, kondisi masih normal tanpa adanya suatu kejadian yang merupakan dampak dari erupsi Gunung Baru Jari. “Untuk sementara pendakian langsung kita tutup. Meskipun informasinya kondisi sudah mulai normal,”ungkapnya.

Meski belum ada dampak terhadap pendaki, ujarnya, dari 380 jumlah pendaki yang berada di kawasan Gunung Rinjani saat ini diketahui sudah mulai berkurang, baik yang berada di Pos II Pelawangan, puncak Gunung Rinjani maupun di kawasan Danau Segara Anak serta beberapa tempat lainnya. Mereka langsung mengambil langkah untuk turun dengan berbagai jalur yang ada seperti jalur Senaru, Sembalun ataupun beberapa jalur lainnya.

Terpisah,Kepala Bidang Kedaruratan dan Urusan Logistik pada BPBD Lotim, M. Takdir Illahi mengatakan kondisi sampai saat ini masih normal. Kendati demikian, pihaknya tetap bersiaga mengantisipasi kemungkinan terjadinya letusan susulan  dari Gunung Barujari.(ari/yon)