LEM Pamerkan Foto Sejarah Lombok

Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh, melihat beberapa foto yang dipamerkan dalam Pamerah Foto Sejarah Lombok di Lombok Epicentrum Mall, Jumat, 27 November 2020.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Mendekatkan sejarah Lombok kepada masyarakat saat ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya seperti dilakukan Lombok Heritage Society Chapter Mataram yang menggelar kegiatan Pameran Foto Sejarah Lombok di Lombok Epicentrum Mall (LEM).

Ketua kegiatan Pameran Foto Sejarah Lombok, I Gusti Agung Bagus Dwipayana, menerangkan dipilihnya LEM sebagai lokasi kegiatan karena melihat posisinya sebagai salah satu pusat perbelanjaan yang kerap menjadi pilihan masyarakat. “Pameran ini kami buat agar sejarah Lombok dikenal lebih dekat oleh masyarakat secara umum. Tampilannya kita buat beda. Kita ingin semua masyarakat baik itu pelajar, mahasiswa, maupun pemuda-pemudi yang secara tidak sengaja datang ke Epicentrum bisa paling tidak sedikit tahu tentang sejarah Lombok,” ujarnya, Jumat, 27 November 2020.

Pameran tersebut digelar selama tiga hari, yaitu 27-29 November mulai pukul 10.00 -21.00 Wita. Lombok Heritage Society sendiri sebagai komunitas yang mewadahi para pecinta sejarah menyiapkan 23 foto sejarah yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber terpercaya.

Selain itu, pada masing-masing foto yang dipamerkan dilengkapi juga dengan deskripsi yang membantu pengunjung pamerah mendapat gambaran lebih jelas tentang  pristiwa tahun 1894 yang menjadi tema pameran. “Kita mengambil tema 1894 karena pada tahun itu memang ada perang dahsyat  yang terjadi. Dan dari literatur yang kita kumpulkan, pada masa itu Lombok pernah mempermalukan Belanda di mata dunia,” jelas Bagus.

Hadir membuka pameran tersebut Walikota Mataram, Ahyar Abduh, yang memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap Lombok Heritage Society. “Kami mengucapkan terimakasih atas diadakannya Pameran Foto Sejarah Lombok di Epicentrum. Saya berharap kegiatan ini mendapatkan dukungan dari masyarakat kita,” ujarnya saat memberi sambutan.

Menurut Ahyar, menyaksikan foto-foto sejarah yang telah divalidasi akan memberikan informasi tentang kilasan sejarah masyarakat Suku Sasak. “Masa lalu teknologi tentunya sangat rendah. Tidak banyak yang bisa diekspose, padahal Lombok memiliki sejarah yang luar biasa,” jelasnya. Dengan diadakannya pameran tersebut, informasi terkait leluruh Suku Sasak disebutnya dapat menjadi lebih jelas.

Dengan mempelajari sejarah, Ahyar berharap semangat perjuangan dan keluhuran para leluhur dapat diwariskan. Termasuk untuk meningkatkan sense of belonging atau rasa memiliki terhadap sejarah itu sendiri.

“Pamerah ini sangat mengedukasi kita supaya bisa menghargai peninggalan masa lalu. Dengan sense of belonging terhadap sejarah kita sendiri, semoga kita bisa memberikan respon positif. Salah satunya dengan terus berjuang membangun Kota Mataram,” ujar Ahyar. Dia berharap, kegiatan serupa kedepan dapat terus diadakan. Terutama dengan melibatkan lebih banyak pihak dan menghadirkan lebih banyak arsip-arsip maupun peninggalan sejarah yang dapat dijadikan materi edukasi. (bay)