Laporan Pelecehan Verbal Nuril Tak Cukup Bukti

Baiq Nuril dalam salah satu rangkaian persidangan beberapa waktu lalu. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Polda NTB memutuskan untuk tidak melanjutkan penyelidikan dugaan pelecehan verbal korban Baiq Nuril Maknun. Penyidik angkat tangan dengan tidak menaikkan status penanganan ke penyidikan. Laporan Nuril terhadap H. Muslim tidak cukup bukti.

“Hasil gelar perkara khusus menyimpulkan kasus tidak cukup bukti untuk dinaikkan ke tingkat penyidikan,” ungkap Kabid Humas Polda NTB, AKBP I Komang Suartana, Jumat, 18 Januari 2019.

Gelar perkara pada Kamis, 17 Januari 2018 itu dihadiri sejumlah ahli, bahkan menghadirkan tim penasihat hukum Nuril. Mereka memberikan pertimbangan mengenai dugaan pelanggaran pasal 294 ayat 2 ke-1 KUHP.

Anggota tim penasihat hukum Nuril, Yan Mangandar menyerahkan hasil penyelidikan sepenuhnya kepada penyidik. Tim hukum menerima hasil tersebut meski dengan pertimbangan upaya hukum lainnya.

“Bagi kami, Ibu Nuril selaku warga negara sudah melakukan kewajibannya melaporkan dugaan tindak pidana,” ucap Yan dikonfirmasi terpisah.

Menyelidiki kasus tersebut, penyidik Subdit IV Renakta Ditreskrimsus Polda NTB sudah mengklarifikasi sejumlah saksi diantaranya pelapor, Baiq Nuril Maknun; terlapor, H Muslim; ahli bahasa, ahli pidana, dan ahli psikologi.

Namun, unsur pidana yang dimuat dalam pasal 294 294 ayat 2 ke-1 KUHP tidak ditemukan. Penyidik tidak memiliki cukup bukti untuk menjerat terlapor dengan pasal tersebut.

Baiq Nuril Maknun, terpidana kasus ITE rekaman cabul mantan Kepala SMAN 7 Mataram, H Muslim melaporkan mantan atasannya itu ke Polda NTB, pada Selasa, 20 November 2018 lalu.

Laporan terkait dugaan perbuatan cabul yang terjadi antara 2013 sampai 2015 melalui perbincangan telepon.  Isi perbincangan antara lain aktivitas seksual terlapor dengan wanita lain.

Perbincangan telepon yang rekamannya membuat Nuril dihukum bersalah majelis kasasi Mahkamah Agung RI, dengan pidana penjara selama enam bulan dan denda Rp500 juta. Dalam kasus itu Nuril sudah mengajukan peninjauan kembali (PK). (why)