Lapak Pedagang di Loang Baloq Sering Dibobol Pencuri

Salah satu pedagang di Taman Loang Baloq menunjukkan dinding warung yang dibobol pencuri. Aksi pencurian yang diperkirakan terjadi pada Kamis, 24 Juni 2021 dini hari tersebut membuat khawatir pedagang, terutama karena intensitasnya yang bertambah selama pandemi Covid-19.(Suara NTB/bay)

Maraknya aksi pencurian di Taman Loang Baloq membuat pedagang resah. Di tengah situasi pandemi yang menyurutkan usaha para pedagang, aksi pencurian yang meningkat beberapa waktu belakangan semakin menambah rasa putus asa para pedagang tersebut.

SALAH seorang pedagang di Taman Loang Baloq, Mulianah menerangkan aksi pencurian memang sering terjadi sejak pertama kali dirinya membuka kios di taman kota tersebut. Namun sejak pandemi Covid-19 terjadi jumlah kasus tersebut semakin bertambah.

Iklan

“Sudah enam tahun saya berjualan di sini, memang sering kemalingan. Tapi sekarang semakin banyak. Kalau toko saya terakhir (kemalingan) tiga bulan lalu, habis semua dagangan saya diambil maling,” ujarnya kepada Suara NTB, Kamis, 24 Juni 2021.

Hal tersebut diakui membuat dirinya putus asa. Terlebih seluruh pedagang di Taman Loang Baloq telah membayar uang keamanan dan listrik sebesar Rp25 ribu ke pengelola. “Tapi percuma saja. Misalnya penjaganya berjaga di depan, malingnya masuk lewat belakang. Kalaupun hilang kita tidak bisa mengadu ke penjaga, jadi percuma juga,” jelas perempuan asal Sekarbela tersebut.

Di Taman Loang Baloq sendiri ada sekitar 40 orang pedagang yang berjualan di masing-masing lapak. Namun sejak pandemi Covid-19 hanya ada 17 pedagang yang masih aktif berjualan. Kondisi tersebut disebabkan menurunnya jumlah pengunjung harian ke taman kota tersebut.

Hal serupa dialami Mala’ah yang warungnya dibobol maling pada Kamis, 24 Juni 2021 dini hari. Dirinya cukup terkejut ketika datang sekitar pukul 07.00 Wita dan mendapati dinding warungnya telah dijebol paksa. “Pagi-pagi datang ada papan yang ditaruh di samping. Saat mau dipindahkan karena seharusnya tidak di sana, baru kita tahu ternyata dindingnya sudah dijebol. Habis semua dagangan,” ujarnya.

Dengan kondisi saat ini aksi pencurian tersebut diakuinya sangat merugikan. Terlebih dari usaha berdagang dirinya hanya bisa mendapatkan untung paling banyak Rp50 ribu per hari selama pandemi. “Sepi sekali sekarang ini. Sudah pemasukan kecil, habis juga barang dagangan kita sama maling,” jelasnya.

Kejadian tersebut bukan yang pertama dialaminya. Menurut Mala’ah aksi pencurian memang jamak terjadi, terutama untuk barang dagangan yang ada di masing-masing warung. “Semua warung di sini pernah kecurian. Paling sering barang dagangan seperti mie instan dan rokok yang diambil. Kadang juga tabung elpiji itu yang sering diangkut. Kalau barang-barang seperti kompor jarang, karena mereka susah barangkali bawanya,” ujar perempuan asal Bendega tersebut.

Dengan situasi sulit saat ini, pihaknya berharap ada perhatian khusus untuk aksi pencurian yang sering terjadi. Terutama dengan pengetatan penjagaan oleh pengelola maupun aparat terkait. Terutama agar pedagang merasa lebih aman saat membuka usaha di Taman Loang Baloq.

“Kalau sekarang ini kita pasrah saja. Mau lapor ke mana-mana juga tidak ada respon. Makanya kita mau bawa saja setiap hari dagangan yang tersisa pulang. Memang repot, tapi dari pada kita rugi terus-terusan. Mana untung tidak ada, modal malah habis kalau kemalingan terus,” tandas Mala’ah. (bay)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional