Lapak Kuliner Loang Baloq, Pedagang Masih Berpikir untuk Pindah

Pedagang ikan di Jalan Lingkar Selatan tengah melayani pembeli, Jumat, 11 Desember 2020. Pembangunan lapak kuliner Loang Baloq telah rampung, namun mereka masih pikir-pikir untuk pindah ke lapak baru tersebut.(Suara NTB/bay)

Selesainya proyek pembangunan lapak kuliner di Taman Loang Baloq direncanakan menjadi tempat representatif bagi pedagang ikan di sepanjang Jalan Lingkar Selatan untuk membuka usaha. Kendati demikian, pada pedagang tersebut masih berpikir dua kali untuk menempati 25 unit lapak yang disiapkan pemerintah daerah tersebut.

Abdal, salah seorang pedagang ikan di Jalan Lingkar Selatan mengaku tertarik menempati lapak kuliner yang pembangunannya menelan anggaran mencapai Rp1,6 miliar tersebut. Namun akses jalan yang dinilai cukup jauh serta kondisi permukaan tanah yang gampang banjir menjadi pertimbangan utama bagi dirinya.

Iklan

“Kalau tidak diatasi lapangan (tanah kosong, Red) yang di depan lapak itu, susah kita. Di sana tidak bias. Air laut naik atau hujan besar sedikit, banjir sudah,” ujarnya kepada Suara NTB, Jumat, 11  Desember 2020 . Menurutnya, satu-satunya solusi adalah dilakukannya pengurugan tanah dan pembenahan saluran. “Kalau itu bisa diatur (diatasi, Red) mungkin mau kita ke sana,” sambungnya.

Di sisi lain, pengaturan akses masuk juga dinilai menjadi aspek penting agar para pedangang mau menempati lapak kuliner tersebut. Pasalnya, dari model pembangunan saat ini sebagian besar pedagang enggan menempati lapak yang ada karena pelanggan hanya bisa masuk jika melewati pantai.

“Kalau di sini (pinggir jalan, red) kan orang tinggal berhenti, langsung belanja. Kalau sebagian saja pedagang yang masuk ke dalam, pasti kalah sama yang masih di luar-luar ini,” ujar Abdal. Untuk itu, pihaknya berharap dalam petunjuk teknis yang disusun oleh Dinas Pariwisata (Dispar) NTB hal tersebut dapat diakomodir.

Abdal sendiri telah berjualan ikan di Jalan Lingkar Selatan selama 5 tahun terakhir. Dalam sehari dirinya dapat menjual ikan dengan modal mencapai Rp500-800 ribu. “Kalau kita berjualan di sini (pinggir jalan, Red), selalu habis juga dagangan sama langganan-langganan yang mampir. Kalau di dalam kan tidak tahu nanti,” jelasnya.

Pedagang ikan lainnya, Rebak, menyampaikan hal yang sama. Dirinya sanksi akan mau menempati lapak kuliner yang disediakan karena berasumsi biaya sewa yang harus dikeluarkan akan lebih mahal ketimbang berjualan di pinggir jalan. “Kalau di sini kita nyewa Rp2 juta per tahun. Nanti kalau di dalam lebih mahal, ya mana berani kita, kecuali lebih murah,” jelasnya.

Selain itu, bentuk bangunan lapak yang disiapkan juga membuat dirinya merasa ragu. Pasalnya, posisi masing-masing lapak yang terlalu berdekatan dan atap yang tidak memiliki kanopi dinilai akan berpengaruh terhadap kenyamanan baik pedagang maupun pelanggan.

“Kita ini usaha ikan. Kalau sedekat itu pedagang ikan semua di sana, gimana nanti asapnya. Belum lagi bentuk atapnya itu, kalau hujan pasti air masuk,” jelasnya. Untuk itu, pihaknya belum berani mengiyakan akan bersedia menempati lapak kuliner tersebut. “Kita lihat saja nanti,” tandasnya. (bay)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional