Langganan Kekeringan, Ribuan Warga di Batulayar Alami Krisis Air Tiap Tahun

Anggota DPRD Lombok Barat, Dapil IV, Tarmizi turun melihat warga yang mengambil air dengan jarak 2 sampai 4 kilometer dengan menempuh medan berbahaya.

Giri Menang (Suara NTB) -Ribuan Warga di kawasan wisata Batulayar, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) hampir setiap tahun dilanda krisis air bersih akibat kekeringan di musim kemarau. Untuk mendapatkan air, warga harus menempuh jarak 2 sampai 4 kilometer, itu pun dengan medan atau akses jalan yang berbahaya. Warga sangat berharap agar persoalan kekeringan ini ditangani serius oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Lobar.

Seperti yang dialami masyarakat Dusun Penanggak Desa Batulayar. Terdapat 600 KK atau sekitar 1.200 jiwa terpaksa menempuh jalur sepanjang tiga kilometer dari pemukiman untuk memperoleh air bersih. Warga pun harus melewati perbukitan terjal dari permukiman. Di mana setiap harinya warga mengambil air dengan menenteng jeriken seukuran 5 hingga 10 liter dengan menyusuri hutan dan menaiki bukit setinggi 1,5 kilometer.

Iklan

“Setiap hari rutinitas kami ambil air ke bawah yang jaraknya sekitar 3 kilometer,” ucap seorang ibu rumah tangga di dusun Penanggak, Hermi, Rabu, 26 Agustus 2020.

Tidak adanya sumber air membuat warga setempat sering memanfaatkan air hujan untuk mencukupi kebutuhan mandi dan mencuci pakaian, sementara warga yang tidak sempat mengambil air terkadang harus membeli dengan harga Rp25 ribu per 25 liternya.

“Biasanya kami menampung air hujan kalau musim, tapi sekarang ini susah dapat air karena musim kemarau,” ungkap Hermi.

Seperti diketahui, kondisi kesulitan air untuk kebutuhan memasak dan minum sudah dialami warga sejak puluhan tahun lamanya, tidak adanya akses air bersih membuat warga harus bertarung nyawa untuk memperoleh dua jeriken air bersih.

Ironisnya, hingga kini pemerintah setempat menanggulangi bencana kekeringan di daerah tersebut hanya sebatas memberikan upaya preventif dengan mendistribusikan air bersih kepada warga. Itu pun masih dirasa kurang efisien dan jauh dari ketercukupan.

“Harapan kami, agar pemerintah juga memberikan upaya permanen agar kami disini tidak kesulitan untuk mencari air bersih setiap musim kemarau,” pungkasnya.

Anggota DPRD Lobar Dapil IV (Gunungsari-Batulayar), Tarmizi yang turun langsung melihat kondisi warga Penanggak, Minggu, 23 Agustus 2020, mengatakan masyarakat berharap ada upaya penyelesaian oleh Pemda dalam hal penanganan persoalan krisis air yang meliputi lima dusun di tiga desa kecamatan Batulayar. Dengan jumlah KK Terdampak mencapai 1000 KK atau sekitar 3000 jiwa.

Lima dusun ini, tersebar di Desa Bengkaung, antara lain Dusun Bunut Boyot dengan jumlah 120 KK dan Pelolat jumlah KK sebanyak sekitar 200 KK. Desa Batulayar ada tiga Dusun, yakni Dusun Penanggak Timur, Penanggak Barat, di dua Dusun ini 600 KK terdampak, Apit Aik sebanyak 90 KK, dan dusun Paok Lombok 90 KK. Ditambah di Desa Batulayar Barat, dusun Duduk Atas sebanyak 120 KK.

“Dalam hal ini kami mendorong agar Pemda segera melakukan kajian dan survei untuk upaya menangani secara teknis krisis air dampak kekeringan di sana, bisa melalui pipanisasi dan mencari potensi sumber mata air di sana,” terang Kejet sapaan akrab politisi Nasdem ini.

Sebab, katanya, jika bicara efesiensi anggaran justru pipanisasi lebih efesien. Karena bisa memanfaatkan potensi sumber mata air di hutan yang sudah ada dengan membuat reservoar atau bak penampung. Hal itu lebih baik dibandingkan dengan penanganan dengan penyaluran air tiap tahun. Meskipun biaya tidak terlalu besar untuk distribusi air, tapi kalau diakumulasi justru menjadi besar.

Bahkan hasil koordinasi dengan tokoh dan pemuda setempat, masyarakat sendiri berkomitmen untuk pengelolaan air bersih jika menggunakan pipanisasi. Warga juga berkomitmen berswadaya untuk biaya pemeliharaan tiap bulan. “Kami mendorong penanganan terintegrasi dengan pipanisasi yang efektif,” ujar dia. Diakui ada reservoar di daerah ini namun itu belum maksimal mengatasi krisis air.

Untuk mendapatkan air warga terpaksa menempuh Jarak 2 sampai 4 kilometer, itupun warga harus melalui bukit dengan kondisi jalan yang berbahaya. Warga juga membuat bak penampungan air hujan.

Akibat krisis air ini justru mempengaruhi kesehatan warga, karena mereka rata-rata mandi sekali sehari bahkan kesulitan mencuci pakaian seminggu sekali. Belum lagi berbicara sanitasi di daerah itu yang juga menjadi permasalahan. Bahkan kalau ada warga yang meninggal, warga harus urunan air untuk memandikan jenazah.

“Air ini jadi pangkal masalahnya, termasuk persoalan kesehatan, karena itu harus segera diatasi,” tegas dia.

Sebagai bentuk komitmennya mengatasi persoalan krisis air ini, pihaknya siap mengarahkan program Pokir. Selain itu, Tarmizi mendorong agar pihak pengusaha vila dan penginapan di daerah dataran tinggi itu juga berkontribusi. Sejauh ini memang ada pengusah membangun sumur bor dan reservoar, Namun terbatas di desa tempat pengusaha itu. Kendalanya juga menyangkut jarak tempuh. Warga harus mengeluarkan biaya untuk mengambil air. Dibutuhkan koordinasi intens antar desa terkait penanganan persoalan krisis air ini. (her)