Lampaui Nasional, Kasus Kematian Pasien Covid-19 di NTB

Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Tingkat kematian pasien virus corona (Covid-19) di NTB terus mengalami peningkatan. Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, menerangkan tingkat kematian tersebut bahkan telah melampaui rata-rata nasional.

“Tingkat kematian kita tinggi. Sekarang nomor dua se-Indonesia,” ujar Eka, sapaan akrabnya, Rabu, 14 Oktober 2020. Menurutnya, hal tersebut terjadi karena sebagian besar pasien Covid-19 di NTB yang meninggal dunia adalah kelompok lansia dengan penyakit penyerta yang terlambat mendapatkan perawatan.

Iklan

Sebagai informasi, sampai dengan Selasa, 13 Oktober 2020, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 NTB mencatat jumlah konfirmasi positif di NTB mencapai 3.583 orang. Rinciannya 438 orang masih menjalani isolasi, 2.937 orang sembuh, dan 208 orang meninggal dunia.

Dari total pasien meninggal tersebut, rata-rata tingkat kematian di NTB mencapai 5,75 persen. Sedangkan  untuk tingkat nasional sampai dengan 13 Oktober 2020, rata-rata angka kematian pasien Covid-19 sebesar 3,55 persen. Perrsentase tersebut didapatkan dengan membandingkan jumlah kematian dengan total jumlah pasien konfirmasi positif yang ada.

‘’Angka kesembuhan kita memang meningkat juga, tapi kasus kematian ini juga tinggi,’’ jelas Eka. Untuk menanggulangi hal tersebut, langkah satu-satunya yang dapat ditempuh adalah melakukan screening awal bagi seluruh lansia dengan penyakit penyerta yang ada di seluruh kabupaten/kota.

Diterangkan, pihaknya telah menyurati seluruh Puskesmas yang ada di NTB untuk melakukan screening awal tersebut. Pola yang sama juga diterapkan pada ibu hamil untuk mengantisipasi penularan Covid-19 pada bayi.

‘’Karena itu kita juga minta masyarakat yang punya gejala seperti batuk kering, tenggorokan sakit, demam, riwayat kontak banyak orang, riwayat kontak positif, dan riwayat probable supaya datang ke rumah sakit. Sebagian besar kasus kematian kita ini karena keterlambatan datang ke rumah sakit,’’ tegasnya.

Berdasarkan catatan pihaknya, 75 persen pasien meninggal adalah lansia. Untuk itu, Puskesmas di masing-masing daerah diharapkan melakukan rapid test pada seluruh lansia yang terjaring screening.

Di sisi lain, upaya tersebut diakui berpotensi besar meningkatkan data jumlah kasus positif di NTB. Namun hal tersebut justru akan mendukung juga peningkatan kesembuhan pasien dan mendorong penurunan angka kematian.

‘’Jangan takut kasus bertambah, yang penting dia sembuh. Kita selalu menekankan itu, berusaha merubah pola pikir orang-orang. Sekarang banyak yang takut diperiksa karena takut diketahui positif. Datangnya sudah parah, kita di rumah sakit juga susah mau menolong,’’ ujarnya.

Menurutnya, ketakutan masyarakat untuk menjalani pemeriksaan justru membuat kasus Covid-19 di NTB lebih sulit lagi ditangani. Terlebih untuk kelompok lansia di mana sistem imun mengalami penurunan untuk melawan virus tersebut.

‘’Dua hari saja sudah cukup untuk membuat parah pada lansia dengan komorbid. Di kita yang meninggal itu lansia dan bayi,’’ tandas Eka. (bay)