Lampaui HPP, Bulog Belum Siap Serap Gabah Petani di KSB

Ilustrasi (Panen padi)

Taliwang (Suara NTB) – Badan Urusan Logistik (Bulog) masih belum melakukan penyerapan gabah petani di awal musim panen perdana tahun 2019 di Sumbawa Barat. Hal itu terjadi lantaran harga beli gabah saat ini dianggap masih sangat tinggi dari Harga Pokok Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp4.070 perkilogram. Sedangan untuk harga yang berlaku di pasaran saat ini berada pada posisi Rp4.600 – 4.700 perkilogramnya di tingkat petani.

“Belum ada yang gabah yang diserap oleh Bulog hingga saat ini karena harganya masih sangat tinggi. Bulog akan melakukan pengamanan harga jika harganya dibawah HPP. Kendati demikian, kami tetap meminta supaya Bulog tetap melakukan penyerapan untuk menjaga ketersediaan pangan terutama gabah. Karena yang kita khawatirkan, jika gabah ini dijual ke luar daerah secara masif akan sangat tidak baik,” ungkap Kadis Pertanian Perkebunan Peternakan (Tanbunnak) KSB melalui Kasi Produksi Dan Tanaman Pangan, Asdi Wijaya, SP, Jumat,  1 Maret 2019.

Iklan

Dikatakannya, target untuk triwulan pertama serapan gabah di Sumbawa Barat mencapai 6.348 ton (Januari- Maret). Tetapi fakta lapangan yang saat ini terjadi, justru masih belum ada yang diserap oleh Bulog karena alasan harga masih di atas HPP.

Tapi pihaknya sangat berharap supaya target triwulan tersebut harus bisa diupayakan terpenuhi. Karena yang dikhawatirkan terjadi jika sarapan gabah baru dilakukan ketika harganya anjlok tidak akan maksimal. Apalagi masih belum ada jaminan dari Bulog untuk tetap menyerap gabah dari petani jika harganya berada sangat jauh dari HPP. Makanya pihak terkait sangat berharap bisa diserap mulai saat ini minimal bisa membantu para petani untuk mendapatkan hasil yang lebih.

“Kita sudah diberikan target 6.348 ton di triwulan pertama, tetapi sampai dengan saat ini masih belum ada yang diserap oleh Bulog. Maka dari itu, kita minta Bulog untuk bisa melakukan penyerapan mulai saat ini minimal bisa membantu petani itu dianggap sudah sangat baik, tidak perlu menunggu harganya anjlok,” tukasnya. (ils)