Lama Terjebak Karena Pandemi, Sejumlah WNA di NTB Kehabisan Biaya Hidup

Ilustrasi Warga Negara Asing. (Blesk.cz)

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah warga negara asing (WNA) yang terjebak di NTB akibat penutupan akses transportasi antar negara selama pandemi virus Corona (Covid-19) menjadi atensi pemerintah. Pasalnya, beberapa dari WNA tersebut dilaporkan mulai kehabisan biaya hidup hingga menjadi beban bagi pihak lain.

Kepala Seksi Izin Tinggal dan Status Keimigrasian (Intaltuskim) Kantor Imigrasi Kelas I TPI Mataram, Bagus A.N.S., menerangkan pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan pemeriksaan ke beberapa titik tempat WNA di NTB terpantau. Hal tersebut juga ditujukan untuk mensosialisasikan Layanan Izin Tinggal Keimigrasian dalam Tatanan Kenormalan Baru yang dikeluarkan Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) RI beberapa waktu lalu.

Iklan

‘’Kalau seperti yang di Bali, ada WNA Rusia yang tinggal di kebun Bandara Ngurah Rai. Kita mau sweeping (penyisiran) dulu yang seperti itu,’’ ujar Bagus, Rabu (15/7). Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan posisi WNA tersebut yang belakangan menjadi beban daerah karena kehabisan biaya hidup. ‘’Kalau mereka di sini bisa bayar hotel dan lain-lain ya silakan, tidak masalah,’’ sambungnya.

Terpisah, Kepala Seksi Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I TPI Mataram, Reza Mulyawan, menerangkan sampai saat ini pihaknya telah menangani dua kasus WNA kehabisan biaya hidup. Pertama adalah pasangan WNA asal Rusia bernama Mikhail (29) dan istrinya Ekatherina (28) yang telah dideportasi pada 3 Mei lalu. Kemudian seorang WNA asal Australia bernama Jay Ly Autumn (28) yang saat ini dalam tahap deportasi.

Diterangkan, Jay merupakan WNA asal Australia yang sebelumnya dilaporkan oleh pengelola salah satu resort di Lombok Tengah ke pihak kepolisian. ‘’Jadi ini atas laporan polisi ke kita. Hampir 1 bulan dia menunggak tidak bayar hotel. Alasannya tidak ada uang,’’ ujar Reza.

  Satuan Brimob Polda NTB dan Jajaran Gelar Baksos Serentak

Jay saat ini telah diamankan di ruang detensi Kantor Imigrasi Kelas I TPI Mataram. Berdasarkan keterangan yang diterima pihaknya, WNA asal Australia tersebut mengaku enggan membayar biaya menginap sebesar Rp4 juta karena pelayanan hotel yang dirasanya tidak memuaskan.

‘’Dia bilang servis hotel yang kurang memuaskan, jadi kenapa harus bayar. Cuma kalau dari pihak hotel bilang pelayanannya sudah baik. Kalau memang tidak memuaskan, kenapa tidak keluar dari 1 bulan yang lalu,’’ ujar Reza.

Sampai saat ini, pihak Imigrasi telah menghubungi Konsulat Australia agar segera menjalin komunikasi dengan Jay. ‘’Tapi yang bersangkutan masih berat hati untuk data terkait keluarganya yang ada di Australia. Jadi dari pihak Konsulat pun tidak bisa memaksa,’’ ujarnya.

Proses deportasi Jay sendiri sampai saat ini masih menunggu kejelasan dari Konsulat Australia tersebut. Terutama terkait keputusan keluarga Jay untuk mengatur pembayaran biaya menginap di hotel, tiket pulang, tes swab, dan lain-lain.

Sebelumnya hal serupa terjadi pada pasangan Mikhail dan Ekatherina yang kedapatan mengamen di Pasar Kebon Roek, Ampenan. Pasutri tersebut diketahui beberapa hari terlunta-lunta di Lombok karena kehabisan ongkos.

Saat ngamen, keduanya membawa serta bayinya yang baru berusia dua tahun. Dalam video yang sempat viral di media sosial, Mikhail ngamen menggunakan alat musik akordion, berusaha menarik simpati para pengunjung dan pedagang pasar. Sesekali ada warga yang menyodorkan uang. Sementara Ekatherina berdiri pada jarak sekitar dua meter sambil menggendong bayinya. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here