Laju Efektif ‘’Zero Waste’’ Bergerak Positif di KLU

Kegiatan pengelolaan sampah di sebuah desa di KLU. (Suara NTB/ari)

PROGRAM Zero Waste yang diterjemahkan oleh kabupaten/kota, harus terus diperkuat. Pasalnya, peran partisipatif masyarakat di tingkat desa mulai terlihat dengan berdirinya TPS3R dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

Di Kabupaten Lombok Utara (KLU), sejumlah desa sudah mulai membangun TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah, Reduce, Reuse, Recycle) untuk mengendalikan volume sampah dan bernilai ekonomi. Tahun 2020 lalu, telah meresmikan TPS3R seperti TPS3R Mandiri di Desa Jenggala, dan TPS3R Apan Baya – Desa Gondang. Fasilitas itu rupanya mampu terlibat aktif menjemput bola menangani sampah. Setiap bulannya, TPS3R mengambil sampah per KK masyarakat dengan beban biaya murah, hanya Rp15.000.

Iklan

Ketua KSM Repeli (Remaja Peduli Lingkungan) selaku Pengelola TPS3R Desa Gondang, Dwi Sandi, mengaku kelompoknya cukup berperan dalam mengendalikan sampah rumah tangga. Meskipun, pihaknya dihadapkan pada fakta banyaknya kekurangan, termasuk minimnya honor tenaga pengelola persampahan.

Saat ini, kata Dwi, TPS3R dikelola oleh 22 orang unsur Pemuda Desa Gondang. Terdiri dari, 3 orang pengurus inti, 3 orang staf administrasi, 4 penyuluh, 2 orang staf unit usaha ekonomi, serta 10 orang pegawai hanggar.

Sejak dipercaya mengelola TPS 3R, KSM Repeli tak pernah libur mengumpulkan, mendaur ulang, atau menggunakan kembali sampah yang dikelola. Produksi sampah anorganik diolah menjadi eco-brick, dijual kembali, serta dibuat berbagai model kerajinan hasil kreativitas anggota KSM. Sedangkan sampah organik, diolah menjadi pupuk kompos untuk selanjutnya dijual ke masyarakat seharga Rp 2 ribu per kg (kemasan produk 5 kg).

“Selama ini kami menjual pupuk organik ke masyarakat, belum berkontrak dengan perusahaan. Untuk bulan kemarin, dibeli semua oleh Dinas LH untuk penghijauan,” ujar Sandi.

Kapasitas olahan yang relatif sedikit membuat hasil produksi juga rendah. Dalam sebulan, KSM Repeli memproduksi pupuk antara 150-200 kg. Kapasitas produksi sangat bergantung dari periode kematangan pupuk untuk siap digunakan.

“Hasil penjualan masih sedikit, belum mampu menutup operasional. Kami terbantu oleh iuran masyarakat (pelanggan) yang kami angkutkan sampahnya,” sambungnya.

Di KSM Repeli, biaya operasional ditopang oleh iuran per KK pelanggan 15 ribu per bulan. Dari seluruh pelanggan, terkumpul Rp3,3 juta per bulan. Dana tersebut ditambah hasil penjualan kompos antara Rp 300 ribu atau lebih yang digunakan mengurangi beban biaya tetap, seperti BBM solar, listrik, dan lainnya.

‘’Honor tenaga hanya Rp300 ribu per orang. Harapan kami, tenaga TPS3R juga dapat dukungan anggaran dari Pemda,’’ harapnya.

Sementara di Desa Bentek, TPS3R Gemaripah, baru diresmikan pekan kedua September 2021 lalu. Pemda Lombok Utara melalui instansi terkait, berupaya menambah jumlah KSM di masyarakat agar lebih banyak partispasi masyarakat yang terlibat mengendalikan sampah. Pasalnya, dalam pengendalian sampah tidak hanya menangani hilir, melainkan pengendalian dimulai dari hulu atau sumbernya.

“TPS3R ini nantinya sebagai wadah penampungan sampah rumah tangga. Dikumpulkan di sini, kemudian diproses kembali, hal ini memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Di samping itu, masyarakat dapat membantu Pemda dalam menangani sampah,” ujar Bupati, H. Djohan Sjamsu, belum lama ini.

Sementara, Kepala UPTD Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup KLU, Vian Hendrayadi, tak menyangkal sampah bisa menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Sampah produksi rumah tangga yang dikelola KSM – TPS3R, dapat diolah kembali untuk diperjualbelikan. Selain itu, KSM juga memiliki legalitas untuk menarik iuran dari rumah tangga atas jasa pengendalian sampah.

Sementara lingkup Dinas sendiri, capaian retribusi sampah sementata tercatat lebih dari Rp220-an juta, atau 91 persen dari target Rp250 juta.’’Itu sudah termasuk sampah hotel, rumah tangga, usaha, hingga perdagangan. Kami target akhir tahun ini tercapai Rp250 juta,’’ ungkapnya.

UPTD Persampahan melakukan inovasi pengendalian sampah. Selain menjemput sampah dari sumbernya, keberadaan KSM juga terus diperbanyak. (ari)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional