Lahan Potensial Pengembangan Porang di NTB Mencapai 4.000 Hektar

Mantan Bupati Dompu Bambang M Yasin mengembangkan tanaman porang. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB tidak ingin ketinggalan momen. Setelah pemerintah Indonesia mengumumkan serius ingin mengembangkan tanaman porang dan walet sebagai komoditas ekspor. Seluruh provinsi di Indonesia ditantang oleh Kementerian Pertanian RI untuk mengembangkan tanaman berumbi yang biasanya ditemukan di kawasan lembab hutan ini. Daerah yang bisa mengembangkan seribu hektar tanaman porang, disiapkan kemudahan bantuan dari hulu hingga hilir.

“Dua komoditas yang didorong dikembangkan di Indonesia untuk ekspor. Yaitu sarang burung walet dan tanaman porang. Kita tidak mau ketinggalan. Karena kita punya potensi 4.000 hektar lahan untuk pengembangan tanaman porang,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Ruhammad Riadi. Kepada Suara NTB, Riadi mengatakan, 4.000 hektar potensi lahan ini tersebar di kawasan hutan.700 hektar termasuk di dalam kawasan Tahura Nuraksa, Lombok Tengah.

Iklan

Sebetulnya tanaman porang bukan tanaman asing bagi masyarakat NTB. Petani bahkan sudah mengembangkannya. Namun masih sporadis. Riadi mengatakan, pemerintah Provinsi NTB juga serius ingin mengembangkan porang dari lahan potensi yang dimiliki. Karena itu, Riadi mengatakan sudah melakukan komunikasi, bahkan hingga berkomunikasi langsung dengan Kementerian Pertanian.

“Saya susul ke Jakarta. Tapi Dirjennya sedang ada kegiatan. tidak bisa dijumpai langsung. Kita ingin menyampaikan potensi pengembangan porang kita,” ujarnya.

Riadi menambahkan, tanaman porang adalah jenis tanaman yang bisa tumbuh subur di lahan-lahan yang ada teduhan. Tidak butuh perawatan yang intensif. Kecuali petani ingin menghasilkan produksi yang tinggi.

“Dalam sehektar, produksi porang bisa mencapai 40 ton. Panennya bisa 8 bulan kalau yang ditanam adalah umbi. Sekali panen petani bisa mendapatkan sampai seratusan juta. Yang mahal adalah pembelian bibitnya. Tidak perlu dirawat terlalu intensif. Ongkang-ongkang kaki itu bisa dapat seratusan juta,” selorohnya.  Kepala dinas juga menegaskan, menanam porang tidak mempengaruhi lahan produktif yang ada. Sehingga tak perlu dikhawatirkan. Cukup memanfaatkan lahan-lahan hutan NTB yang masih subur. Karena itulah, petani atau masyarakat harus di edukasi menjadi petani porang. Karena nilai ekonomisnya sangat menjanjikan sebagai komoditas ekspor. (bul) 

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional