Lahan Negara di Pulau Tapan Diduga Diperjualbelikan

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Informasi yang berkembang ada indikasi telah terjadi jual beli lahan negara di atas pulau kecil, Gili Tapan kecamatan Maronge yang berada di Perairan Teluk Saleh. Oknum masyarakat mengklaim lahan kemudian dijual kepada pengusaha dari luar melalui broker.

Muncul kekhawatiran bakal terulangnya kembali kasus penjualan pulau di Sumbawa. Seperti kasus penjualan Pulau Meriam beberapa tahun silam.

Iklan

Camat Maronge, Lukmanuddin yang dihubungi Suara NTB, Selasa, 20 Desember 2016, pun tak menampik isu ini. Infromasi awal yang diperolehnya, ada warga yang membuka lahan lalu menjual kepada pengusaha melalui broker yang infonya oknum PNS. Padahal menurutnya tidak bisa sembarangan membuka lahan negara karena harus seizin Bupati. Kalau dijual, dokumen seperti sporadik dan SKPT pun harus jelas dasar penerbitannya.

“Saya sudah ingatkan Kades (Labuan Sangoro), untuk tidak sembarangan mengeluarkan dokumen tanah. Ini sedang kita telusuri ada atau tidak,”cetusnya.

Kalaupun diklaim sebagai tanah adat, lanjut Camat Maronge, Sumbawa tidak mengenal istilah tanah adat. Makanya, kasus ini bakal dirapatkan dengan dinas terkait. Sebab  informasinya, masyarakat yang jual tanah ini melalui broker kepada pengusaha dari luar negeri mengatasnamakan orang local, dengan dibuatkan sporadik oleh desa. Pihaknya tidak ingin kasus penjualan pulau terulang di wilayahnya.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Sumbawa, Ir. H. Junaidi, pun mendengar informasi serupa. Namun lebih jelasnya nanti akan dirapatkan bersama seluruh instansi terkait.

Yang jelas, Gili Tapan masuk dalam rencananya untuk dikelola sebagai proyek percontohan pengelolaan pulau pulau kecil untk wisata bahari dan wisata masyarakat pesisir. Melalui program SAMOTA, agar ada satu Pulau kecil di Sumbawa yang bernuansa Internasional. Dengan membangun fasilitas wisata di Tapan. Termasuk adanya dukungan dari Kementerian Pariwisata untuk membangun homestay di Tapan sebagai alternatif dalam menjembatani destinasi seperti Tambora, Satonda dan Pulau Moyo. Sehingga kedepannya, berkembang parwisata yang berbasis masyarakat. (arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here