Lahan Kritis di Loteng Dihijaukan

Kondisi hutan HGU di Desa Lantan yang sudah mulai gundul. PDAM Praya bersama Pemdes Lantan dan Balai Tahura Nuraksa, melakukan reboisasi dan rehabilitasi, Senin, 21 September 2020.(Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Puluhan hektar lahan kritis yang ada dikawasan hutan Hak Guna Usaha (HGU) Desa Lantan Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah (Loteng), dihijaukan kembali. Sebagai salah satu upaya mengembalikan kondisi kawasan hutan yang saat ini tengah kritis. Akibat kesalahan pola pemanfaatan lahan kawasan hutan oleh masyarakat sekitar.

Total sekitar lima ribu bibit pohon yang ditanam dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Pemerintah Desa Lantan berkerjasama dengan PDAM Praya dan Balai Taman Hutan Rakyat (Tahura) Nuraksa tersebut. Di antaranya pohon beringin, sukun, ketapang serta gaharu. Termasuk pohon buah-buahan seperti durian.

Iklan

“Dengan upaya ini kita harapkan bisa mengembalikan fungsi kawasan hutan yang sudah kritis dan gundul tersebut,” ungkap Direktur Teknis PDAM Praya, Lalu Sukemi Adiantara, kepada wartawan, Senin, 21 September 2020.

Diakuinya, kawasan hutan HGU Desa Lantan sendiri sangat penting posisinya. Karena di kawasan tersebut ada sumber mata air yang menjadi salah satu sumber air baku yang dikelola oleh PDAM Praya. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah tengah dan selatan.

Di satu sisi kerusakan kawasan hutan tersebut berdampak langsung terhadap kondisi debit mata air yang kian waktu terus menurun. Sehingga upaya-upaya pelestarian dan reboisasi dengan menanami kembali kawasan hutan yang sudah gundul dan kritis tersebut penting untuk terus digalakkan.

“Dengan kita menanami kembali kawasan hutan yang gundul ini, diharapkan bisa mengembalikan kondisi kawasan hutan ke kondisi normal,” ujarnya. Yang pada akhirnya nanti bisa mengembalikan kondisi sumber-sumber mata air yang ada.

Terpisah, Kepala Desa Lantan, Erwandi, mengatakan secara umum kondisi hutan di wilayah masih cukup baik. Namun ia tidak menampik ada beberapa titik kawasan hutan yang kondisinya sudah kritis. Terutama di kawasan hutan HGU yang selama ini dikelola oleh masyarakat.

Sehingga pemerintah desa bersama dengan masyarakat sudah bersepakat untuk menanami kembali kawasan hutan HGU yang kondisi rusak tersebut. Supaya bisa kembali hijau dan rimbun. Karena yang merasakan dampaknya jelas masyarakat banyak. Meski yang melakukan pengerusakan ataupun perambahan hutan itu hanya beberapa oknum masyarakat saja.

Erwandi mengatakan, di kawasan hutan HGU tersebut oleh masyarakat banyak ditanami tanaman semusim. Kondisi tersebut yang membuat fungsi kawasan hutan menurun. Karena fungsi konservasinya tidak berjalan maksimal. “Jadi setiap mau musim tanam, banyak pohon yang ditebang. Ini yang jadi persoalan. Yang kedepan tidak boleh lagi terjadi,” timpal Erwandi.

Kepala UPTD Balai Tahura Nuraksa, Samsyiah Samad, S.Hut.,M.Si., menambahkan, saat ini kondisi kawasan hutan diwilayah Loteng secara umum masih cukup baik. Terutama untuk kawasan hutan lindung serta Hutan Kemasyarakatan (Hkm)-nya. Hanya di kawasan hutan HGU yang kondisinya banyak yang sudah gundul dan kritis. Terutama yang berada didekat dengan pemukiman warga.

Tetapi tidak separah kondisi kawasan hutan di daerah lain. Sehingga langkah-langkah antisipasi sejak dini penting dilakukan dan harus berkelanjutan. “Mumpung kondisi hutan tidak terlalu parah kerusakannya, jadi tidak salah kalau sejak dini dilakukan upaya rehabilitasi dan reboisasi,” pungkasnya. (kir)