Lahan Jagung Sistem Irigasi Tetes di Lombok Utara Tidak Mangkrak

Muhammad Riadi. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – learning centre budidaya jagung dengan teknologi water drip (irigasi tetes) di lahan seluas 200 hektar lahan kering di Dusun Batu Keruk, Desa Akar-akar, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) ditawarkan ke PT. DNA, setelah pengelola sebelunnya, PT. Agrindo dinilai tidak konsisten menggarapnya.

Learning centre budidaya jagung dibangun bekerjasama dengan iGrow pada September 2019 lalu. Teknologi irigasi tetes pada jagung dapat meningkatkan panen dari hanya satu kali dalam satu tahun dengan hasil panen 4-5 ton per hektar, dapat menjadi tiga kali dalam satu tahun dengan estimasi hasil panen 9-10 ton per hektar.

Iklan

Belakangan, cita cita membuat percontohan budidaya jagung dengan teknologi baru ini tidak kesampaian, pemanfaatan kawasan tidak konsisten dilakukan. Bahkan menjadi perhatian publik karena dinilai sebagai proyek gagal. Padahal, kawasan ini dibangun dengan anggaran mendekati Rp30 miliar. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Muhammad Riadi yang dilantik oleh gubernur, jauh setelah proyek ini dilaksanakan, kepada Suara NTB, Jumat, 17 September 2021 menegaskan, budidaya jagung dengan sistim irigasi tetes di Kabupaten Lombok Utara ini sebetulnya masih berjalan di 30 hektar.

Jikapun saat ini lahan tersebut sebagian besar masih kering kerontang dan belum dimanfaatkan, kendalanya hanya karena belum ada kesepakatan lagi antara petani pemilih lahan dengan pengelolanya, PT. Agrindo. “Petani di sana mau kelola lahannya saat musim hujan, dan saat musim kering dikelola dengan sistem irigasi tetes ini. Tapi dari mitra (PT. Agrindo) menyatakan rugi kalau menanam hanya sekali. PT. Agrindo maunya dikelola terus, saat hujan maupun kemarau. Kalau hanya dikelola saat musim kemarau, merasa rugi. Ini yang belum ketemu,” kata kepala dinas.

30 hektar dimaksud yang dikelola oleh perusahaan mitra, adalah lahan-lahan yang pemiliknya bersedia diolah nonstop oleh perusahaan, baik saat musim hujan, maupun saat musim kemarau. Sisanya, petani ingin perusahaan mengelolanya hanya saat musim kering. Inilah kenapa sebagian besar belum termanfaatkan. Riadi menambahkan, sejak awal proyek ini, sebetulnya sudah ada kesepakatan pengelolaan antara petani pemilik lahan dengan perusahaan.

Pemerintah juga sudah menyerahkan pengelolaan sarana dan prasarana irigasi tetesnya kepada kelompok tani di sana. Tinggal kerjasamanya dilaksanakan antara petani dengan perusahaan. Namun di tengah jalan kesepakatan kedua belah pihak menjadi berubah lagi. Agar kawasan jagung dengan teknologi irigasi tetes ini dapat dimanfaatkan sesuai hajatannya, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB sudah mendatangkan perusahaan lain, PT. DNA yang siap bekerjasama dengan petani dan memanfaatkan kawasan tersebut. Karena PT. Agrindo juga dianggap wan prestasi mengelolanya.

“PT. DNA ini fleksibel, mau dikasi hanya saat musim kemaru, oke. Mau terus terusan menanam juga oke. Petani senang, PT. DNA juga bersedia memperbaiki lagi sarana-sarana yang rusak. Misalnya pipa lateral yang digorok oleh oknum. Sudah ada deal dengan petani, dan minggu depan sudah mulai dikelola,” ujarnya.

Riadi mengatakan, Pemprov sebagai fungsi fasilitator, berharap pengelolaan kawasan ini sesuai yang diharapkan. Jangan sampai kawasan ini dianggap mangkrak. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional