Lahan Investasi Nganggur, Lotim Desak Pemprov Tegas terhadap Investor Pantai Pink

Pantai Pink (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemkab Lombok Timur (Lotim) mendesak Pemprov NTB bersikap tegas terhadap investor yang sudah lama mendapatkan izin di Pantai Pink, Kawasan Tanjung Ringgit, Kecamatan Jerowaru. Pasalnya, tiga kali pergantian bupati di Lotim, investor asal Swedia, PT. Eco Solutions Lombok (ESL) tak kunjung merealisasikan investasinya.

Wakil Bupati Lotim, H. Rumaksi SJ, SH mengatakan PT. ESL sudah lama memperoleh izin. Bahkan untuk mendukung percepatan realisasi  investasi di daerah tersebut, Bupati Lotim sudah turun langsung ke Hutan Sekaroh untuk menertibkan masyarakat yang melakukan perambahan di sana.

Iklan

‘’Yang kita harapkan, PT.ESL ini supaya segera merealisasikan (investasinya). Jangan pakai akan-akan terus. Sekarang sudah clear lahan itu. Cuma, pembangunan ini sampai sekarang belum,’’ kata Rumaksi dikonfirmasi Suara NTB usai menemui Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc di ruang kerjanya, Senin, 10 Februari 2020.

Ia berharap investor segera action di lapangan. Agar daerah jangan rugi akibat investasi yang tak kunjung direalisasikan. Mantan Anggota DPRD NTB ini mengatakan, Pemprov NTB perlu bersikap tegas terhadap investor yang sudah lama tak melakukan action di lapangan.

‘’Karena kewenangan bukan lagi di kabupaten. Kewenangan semuanya di provinsi. Tinggal provinsi yang mengambil kewenangan apa. Kita lihat selama ini kan sudah nganggur terus ini (lahan investasi). Tidak ada actionnya,’’ keluhnya.

Rumaksi mengatakan, Pemkab Lotim sebagai daerah yang menjadi lokasi investasi tersebut menyerahkan sepenuhnya kepada Pemprov NTB untuk mengambil kebijakan. ‘’Apapun kebijakan Pak Gubernur, kita back up. Saya rasa perlu ketegasan,’’ katanya.

ESL memperoleh izin seluas 339 hektare di Hutan Sekaroh. Rencananya, mereka akan membangun resort dan klinik kesehatan di daerah tersebut. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Ir. Madani Mukarom, B. Sc.F, M. Si mengatakan, belum lama ini PT. ESL sudah dipanggil oleh Pemprov NTB.

Pemprov meminta agar mereka sesegera mungkin melakukan action di lapangan. Selain belum merealisasikan investasinya, PT. ESL juga masih menunggak iuran mencapai miliaran rupiah. Terkait persoalan ini, sudah ada tim yang dibentuk untuk membahas masalah ini. Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) sebagai ketua tim yang akan mengevaluasi besaran iurannya.

Madani mengakui bahwa investasi PT. ESL di Pantai Pink Kawasan Tanjung Ringgit masih tersendat. Namun berdasarkan hasil pertemuan terakhir dengan investor, mereka akan mulai melakukan pembangunan akhir tahun 2020 ini. Pemprov sudah menagih investor agar segera melakukan pembangunan. (nas)