Lahan Enklave Kawasan The Mandalika Mulai Dikosongkan, Warga Bongkar Sendiri Bangunannya

Warga membongkar sendiri bangunan di atas lahan enkave kawasan The Mandalika yang sudah diekseksusi oleh PN Praya bersama dengan pihak ITDC, saat pengosongan lahan berlangsung Rabu, 13 Januari 2021.

Praya (Suara NTB) – Setelah menyelesaian land clearing (perataan lahan) di lahan-lahan yang diklaim warga, PT. Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) bersama Pengadilan Negeri (PN) Praya, Rabu, 13 Januari 2021, mulai melakukan pengosongan terhadap lahan-lahan yang berstatus enklave. Pengosongan diawali dengan pembacaan eksekusi lahan oleh Juru Sita PN Praya, dilahan milik Amaq Demung dan Amaq Silah, Dusun Ujung Lauk Desa Kuta. Kedua pemilik lahan tersebut sebelumnya sudah mengambil uang ganti untung di PN Praya.

Pantauan Suara NTB, proses eksekusi dan pengosongan lahan berlangsung lancar dan kondusif. Sebanyak empat kepala keluarga (KK) yang mendiami lahan seluas 20 are tersebut, memilih membogkar sendiri bangunannya. Mereka menolak pembongkaran paksa, supaya bisa menyelamatkan bahan bangunan yang masih bisa digunakan.

Kendati demikian, baik Polres Loteng maupun Kodim 1620/Loteng tetap menyiapkan personelnya di lapangan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. “Alhamadulillah eksekusi dan pengosongan lahan enklave kali ini berjalan lancar. Tanpa ada perlawanan. Karena memang lahannya sudah selesai dibayar,” sebut Danramil Pujut Kapten Inf. Abdul Hamid.

Terpisah, Vice President Corporate Legal and GCG ITDC, Yudhistira Setiawan, mengatakan sejauh ini total sudah ada 8 bidang lahan enklave yang oleh pemiliknya sudah mengambil uang ganti untung di PN Praya. Untuk tahap awal, bersama PN Praya pihaknya melakukan eksekusi dan pengosongan lahan terhadap dua bidang lahan.

Kedua lahan tersebut memang dipriotitaskan untuk dikosongkan sesegera mungkin, karena letaknya yang berada di area yang terkena pembangunan jalur lintasan. Sehingga dengan dikosongkannya dua bidang lahan tersebut, maka jalur Jalan Khusus Kawasan (JKK) Mandalika yang nantinya akan menjadi lokasi penyelenggaraan balap MotoGP saat ini sudah tersambung sepenuhnya.

‘’Pengosongan lahan kita lakukan dengan mempertimbangkan skala prioritas. Tapi bukan berarti lahan yang lain tidak diprioritaskan. Hanya ada yang kita utamakan dan dahulukan. Agar proses pembangunan JKK Mandalika tidak terhambat karena persoalan lahan,’’ sebutnya.

Terkait pengosongan lahan, pihaknya memberikan kesempatan bagi warga untuk membongkar sendiri bangunan miliknya. Walaupun lahan dan bangunan tersebut sepenuhnya sudah dibayar oleh pihak ITDC. ‘’Nyatanya warga memilih untuk membongkar sendiri bangunan miliknya atas kesadaran sendiri. Bagi kami, silakan saja,’’ ujarnya Yudistira.

Pihaknya pun memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada warga yang mau menerima pembayaran ganti untuk atas lahan dan bangunannya. Apalagi dengan kesadaran sendiri mau membongkar sendiri bangunan miliknya. ‘’Mudah-mudahan saja ini bisa menjadi contoh bagi pemilik lahan yang lainnya,’’ harapnya.

Sementara itu, Amaq Samah salah satu warga pemilik lahan mengaku sebenarnya cukup berat melepas lahan miliknya. Karena sudah begitu lama ditempati. Tapi demi mendukung dan mensukseskan pembangunan di daerah ini, pihaknya dengan suka rela melepas lahan miliknya. “Semoga dengan dukungan ini, bisa mensukseskan pembangunan. Utamanya pembangunan sirkuit MotoGP Mandalika,” tandasnya.  (kir)