Lagi, RPH Banyumulek Ditawarkan ke Investor

Mataram (Suara NTB) – Rumah Potong Hewan (RPH) Banyumulek, Lombok Barat yang dikelola sendiri oleh PT. Gerbang NTB Emas (GNE) kembali ditawarkan kepada investor yang bersedia. Perusahaan Daerah (Perusda) ini memberikan kesempatan kepada siapapun yang siap mengelolanya.

Satu dari beberapa unit bisnis yang ada, PT. GNE yakin sangat layak ditawarkan ke investor. Secara sarana dan prasarananya, terbilang cukup lengkap, dari mesin potong, kotak pendingin untuk menyimpan daging, seluruhnya menggunakan standar nasional.

Iklan

RPH Banyumulek sempat dikelola oleh PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), selama dua tahun. Tapi kerjasama tersebut tak berlanjut, Kata Direktur Utama PT. GNE, Drs. H. Syahdan Ilyas, MM di Mataram kemarin.

Secara rinci dijabarkan aset-aset di RPH Banyumulek, di antaranya mesin potong modern, mesin pendingin besar dengan daya tampung daging sampai 5 ton. Ditambah empat mesin pendingin kecil lainnya dengan kapasitas masing-masing 500 Kg. sehingga total 7 ton daging yang bisa disimpan dengan mesin pendingin miliknya. Selain itu, tersedia juga mesin kedap udara untuk pengemasan daging beku.

“Mesin-mesinnya bagus, alat potongnya bagus, yang kurang bagus modalnya,” seloroh H. Syahdan.

RPH Banyumulek menurutnya tetap beroperasi hingga saat ini. Tentu operasionalnya terbatas. Pemotongan ternak masih tetap dilaksanakan di sana. Paling tidak untuk pemotongan dua sampai tiga sapi sehari.

Meski dalam hitung-hitungan bisnis operasional potongnya merugi, H. Syahdan mengatakan kegiatannya harus tetap berjalan, dalam rangka mendukung program Pijar pemerintah daerah. Hasil pemotongan di RPH Banyumulek, selanjutnya diecer di GNE Mart di kantor pusatnya di perempatan besar Sweta. Sisanya sebagian diolah untuk beberapa jenis produk dengan bahan baku daging, termasuk untuk campuran pembuatan cilok dan bakso.

Ia juga mendorong pemanfaatan RPH Banyumulek oleh masyarakat. Perusahaan menerima pesanan jasa pemotongan. Peluang ini menurutnya akan lebih mempermudah para jagal yang memiliki keterbatasan tempat potong.

Dibagian lain, dari sisi produk, GNE Agrifood telah menciptakan beberapa jenis produk berbahan dasar daging. Bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), produk-produk yang dihasilkan tersebut telah diajukan seluruh syarat izin yang berlaku. Dari enam yang diajukan, dua diantaranya telah dinyatakan sangat layak dan memenuhi standar untuk dijual ke pasar nasional, bahkan internasional.

“Dari enam yang diajukan izinnya oleh LIPI, dua diantaranya, olahan daging dengan merek Mandalika, serta karage original sudah mendapat izin untuk diproduksi dalam skala besar,” demikian H. Syahdan Ilyas. (bul)